mtcomm
Tampilkan postingan dengan label Online Viral Marketing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Online Viral Marketing. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2011

Pergeseran Peran Agenda Setting Komunikasi Massa dan Apa Maknanya

June 16, 2009
Oleh Ismujiarso


Beberapa waktu lalu saya mengkritik –lewat sebuah postingan di blog– pelayanan Chicken Story gerai Pondok Indah Mal yang tidak hanya lambat, tapi juga buruk. Kira-kira sebulan kemudian, karena “terpaksa”, saya kembali makan di tempat itu lagi, namun sungguh diluar dugaan, mendapati perubahan yang mencengangkan. Pelayanannya tidak hanya sigap, melainkan bahkan sampai ada satu staf khusus yang bertugas mengecek ke setiap bangku pengunjung untuk memastikan semua pesanan telah datang. Teman saya minta tusuk gigi, dan dilayani dengan keramahan yang luar biasa. Saya sebenarnya tidak mau “ge-er” bahwa perubahan yang drastis itu merupakan akibat dari tulisan saya di blog. Tapi, hati kecil saya sulit untuk memungkiri rasa “ge-er” itu. Masalahnya, saya tidak bisa membuktikan adanya kaitan antara postingan saya di blog dengan perubahan pelayanan yang terjadi (kecuali, tentu saja, kalau saya bertanya langsung kepada manajernya).
Dalam ilmu komunikasi massa, pembicaraan mengenai relasi antara media dengan audiens-nya memang dianggap sebagai bagian yang paling sulit dirumuskan secara teoritis. Dulu ada yang namanya Teori Peluru atau dikenal juga sebagai Teori Jarum Suntik, yang berasumsi bahwa isi media mempengaruhi audiens layaknya peluru yang menembus sasaran tanpa hambatan, atau seperti sesuatu yang disuntikkan ke dalam tubuh.
Seiring dengan perkembangan zaman, di mana manusia semakin pintar dan kritis, maka teori itu pun gugur. Nyatanya, audiens media bukanlah sekumpulan orang yang pasif dan menerima begitu saja pesan yang disampaikan oleh saluran-saluran komunikasi. Maka, kemudian lahirlah teori-teori lain, salah satu yang penting dan masih relevan sampai sekarang adalah Teori Agenda Setting. Ide dasarnya: media (komunikasi) massa lebih dari sekedar pemberi informasi dan opini. Oke, media mungkin tidak atau kurang berhasil membuat orang untuk memikirkan sesuatu. Namun, teori ini percaya bahwa media sangat berhasil mendorong audiens-nya untuk menentukan apa yang perlu mereka pikirkan. Dengan kata lain, Agenda Setting menggambarkan betapa “powerful”-nya (pengaruh) media, terutama dalam kemampuannya menunjukkan kepada kita, ini lho isu-isu yang penting. Dengan demikian, teori ini mengandung asumsi bahwa media tidak semata-mata mengabarkan informasi dan opini, melainkan lebih daripada itu, juga menyeleksi dan menentukan informasi maupun opini tersebut. Artinya, media sebenarnya hanya berkonsentrasi pada isu-isu tertentu yang jumlahnya mungkin sedikit, dan kemudian membuat audiens menerima bahwa memang itulah isu-isu yang lebih penting dibandingkan isu-isu lainnya yang banyak sekali.
Teori Agenda Setting berkembang pada dekade 60-an, ketika belum ada internet. Dan, kalau tadi saya bilang “masih relevan”, maka sekarang, dengan mengingat munculnya teknik-teknik dan media-media baru komunikasi dewasa ini, mungkin bisa dipertanyakan kembali, benarkah masih serelevan itu? Tentu saja, apa yang disebut sebagai pengaruh pers (koran, majalah, radio, televisi) itu masih ada, dan tetap nyata dan boleh dibilang, juga tetap besar. Namun, kini peran itu sudah digerogoti, untuk kemudian dibagi, oleh blog dan situs-situs jaringan sosial di internet. Bahkan, dalam batas dan kasus tertentu, peran itu sudah bergeser. Apa yang penting bagi publik sekarang ini tidak lagi (hanya) ditentukan oleh koran nasional atau stasiun TV besar, melainkan juga oleh postingan di blog, video yang mungkin di-unggah secara iseng di Youtube, konversasi di Facebook atau bahkan mungkin “status” seseorang (yang cukup berpengaruh) di Twitter.
Kasus monster air Pantai Ancol barangkali akan menjadi salah satu contoh klasik untuk pergeseran peran agenda setting (dari) media massa ke social media. Kabar mengenai adanya monster air itu berawal dari sebuah video di Youtube, yang kemudian menjadi obrolan di Forum Kaskus. Detikcom kemudian mengembangkannya, me-running beritanya, bahkan sampai mewawancarai Wapres Jusuf Kalla segala sehingga menimbulkan efek dramatis yang mencekam –seolah-olah ini sesuatu yang sangat gawat, dan oleh karenanya perlu mendapat perhatian semua pihak. Hingga akhirnya koran-koran dan televisi pun “menindaklanjuti”-nya. Menarik untuk mencermati, bagaimana media online seperti Detikcom, yang di awal kemunculannya diremehkan dan dipandang sebelah mata oleh para budayawan serius (yang mengatakan bahwa berita-beritanya dangkal, tidak akurat, dan kurang bisa dipercaya), dalam perkembangannya justru memainkan peran yang krusial dalam mengarahkan agenda media-media besar, cetak maupun elektronik. Saya sendiri kebetulan adalah bagian dari generasi pertama wartawan (media) online di Indonesia, dan kami sering tertawa-tawa senang menyaksikan rekan-rekan sejawat dari media konvensional dibuat repot oleh berita-berita yang langsung tayang “detik itu juga” di media kami. “Gara-gara berita lu, nih gue jadi disuruh redaktur gue untuk ngembangin isu ini,” begitulah kira-kira gambaran kasarnya. Dengan kata lain, suatu isu mendadak menjadi penting ketika dilaporkan oleh Detikcom –lebih-lebih jika isu itu di-update terus-menerus. Efek dari “running news” ala dotcom semacam itu memang ampuh dalam meningkatkan nilai berita sebuah informasi atau isu tertentu, yang tak jarang membuat para redaktur koran dan TV kalang-kabut.
Belakangan, dengan semakin maraknya penggunaan media-media jaringan sosial di internet macam Facebook dan Twitter, berita-berita dari media online (tidak hanya Detikcom), tapi (sekarang juga ada) Kompas.com, Vivanews, Okezone, Inilah.com dan lain-lain) semakin menemukan jalan mulus untuk memainkan “kepemimpinan”-nya dalam agenda setting komunikasi massa. Para blogger, Facebooker, dan pecandu micro-blogging lewat Twitter dan Plurk sering secara sukarela “membawa” berita-berita dari media-media online tersebut ke blog dan social media, baik dalam bentuk postingan, informasi link, maupun pernyataan di status. Dan, semua itu kemudian menciptakan konversasi yang panjang dan ramai. Waktu terjadi pembunuhan di Pasific Place beberapa waktu lalu misalnya, seorang teman saya membuat postingan yang selain “mengabarkan kembali” peristiwa itu, sekaligus juga mengungkapkan kekhawatirannya akan ibukota yang semakin tidak aman. Dan, ternyata, banyak dari pembaca yang berkomentar, baru tahu mengenai berita pembunuhan itu dari postingan tersebut. Ketika sebuah helikopter militer lagi-lagi terjatuh, Pemimpin Redaksi Detikcom Budiono Darsono langsung memasang link berita dari media yang dipimpinnya mengenai peristiwa itu di Facebook-nya. Pada saat yang berbarengan, sejumlah awak redaksi lainnya juga melakukan hal yang sama. Bayangkan, kalau semua awak redaksi sebuah media online memasang setiap link hot news di Facebook dan/atau Twitter masing-masing! Betapa akan sangat besar dampaknya dalam mempengaruhi agenda setting komunikasi massa.
Kasus Prita adalah contoh paling segar tentang kedahsyatan konversasi online dalam mempengaruhi agenda setting media massa secara umum. Begitu ramainya postingan di blog dan pembicaraan di Facebook yang mengungkapkan keprihatinan, dukungan maupun simpati atas Prita yang dituntut karena dituduh mencermarkan nama baik Rumah Sakit Omni Tangerang, koran-koran, majalah dan televisi pun kemudian beramai-ramai menjadikannya laporan utama. Ini bisa diartikan bahwa secara tidak langsung blog dan social media telah mampu menjadi kekuatan penekan –sebuah peran politis yang penting dan strategis, yang sebelumnya, selama ini, (hanya) dimiliki oleh pers “resmi”.

Sudah Saatnya Perusahaan Paham Online Crisis Management

July 10, 2009
Oleh Nukman Luthfie


Barangkali tak banyak yang menyangka, hanya dari sebuah email keluhan Prita Mulyasari terhadap Rumah Sakit OMNI bisa menggegerkan negeri ini dan menghancurkan reputasi RS mewah di Alam Sutera, Tangerang ini. Menggegerkan negeri karena menjadi headline di berbagai media cetak, radio, TV, dan online di tengah maraknya kampanye Pemilihan Presiden (pilpres) 2009. Bahkan dua kali Prita vs RS OMNI masuk ke halaman satu koran Kompas, sebuah media yang tergolong amat hati-hati mengangkat sebuah isu. Menghancurkan reputasi RS OMNI karena nyaris tidak ada berita yang positif mengenai RS ini. Bahkan hasil search di Google dengan kata kunci “RS OMNI” dipenuhi dengan berita negatif plus tulisan miring dari para blogger pembela Prita.
Hasil pemantauan di online, baik melalui Google, berbagai komentar di berbagai media online, postingan para blogger, percakapan di social media seperti Facebook, maupun mailing list nyaris 100% buruk untuk citra RS OMNI. Sulit menemukan suara di online yang membela RS OMNI, kecuali suara lawyernya yang dikutip oleh media massa. Sayang, suara lawyer ini tenggelam di balik gelombang dahsyat pengutuk RS OMNI yang memerkarakan dan dan memenjarakan pasiennya sendiri.
Eh, suara lawyer? Sekali lagi: suara lawyer? Ya. Itulah yang terekam di media massa dan social media online. Lalu ke mana suara manajemen atau suara Public Relations? Kalau pun ada, suara manajemen tenggelam di balik suara lawyer, dan suara lawyer tersapu oleh suara publik. Publik melalui social media, seperti Facebook dan blog, menguasai opini mengenai RS OMNI yang cenderung negatif. Ini diperparah oleh suara media yang juga membela Prita. Apalagi pada saat yang sama sedang ada kampanye pilpres dan Prita juga dijadikan salah satu bahan kampanye. Habis sudah citra baik RS OMNI oleh penguasaan opini publik ini.
Boleh dibilang, RS OMNI menghadapi crisis management level tertinggi yang amat sulit diatasi. Dan itu semua, untuk pertama kalinya di Indonesia, krisis itu dipicu oleh online, hanya dari sebuah email, yang kemudian meledak di media konvensional, baik cetak, radio maupun TV.
Saya sangat memaklumi jika manajemen RS OMNI terlambat mengantisipasi krisis ini. Saya menduga, mereka kurang memperhatikannya, karena sumbernya hanya email, yang kemudian menjadi email berantai. Manajemen RS OMNI bisa jadi merasa cukup mengambil tindakan komunikasi berupa pemasangan iklan bantahan di koran Kompas, sambil terus berusaha menjerat Prita agar masuk penjara. Manajamen RS OMNI barangkali tidak menyadari kekuatan online social media menyebarkan virus komunikasi, menciptakan viral serta membuat perlawanan missal terhadap sebuah merek.
Online social media, seperti Facebook, Friendster, blog, Twitter, Plurk, dan lainnya memang hal baru di Indonesia. Ketika kasus email keluhan Prita terjadi pertengahan tahun lalu, social media belumlah menjadi tren. Di medium inilah konsumen berbicara tanpa sensor. Pantas jika manajeman OMNI luput memperhatikan medium baru ini. Sialnya, ketika RS OMNI berhasil memenjarakan Prita, pada saai itulah social media menghebat di Indonesia, dan menjadi momentum yang luar biasa untuk mendukung Prita yang dianggap dipeperlakukan sewenang-wenang oleh RS OMNI.
Hasilnya sudah jelas. Secara citra, RS OMNI terpuruk. Sebaliknya, Prita memanen citra positif.
Kasus Prita vs RS OMNI ini bagaimana pun juga kini menjadi lampu merah bagi perusahaan, baik direksi maupun Public Relations dan Marketing untuk memahami lebih dalam mengenai online social media. Tanpa pemahaman mengenai perilaku pengguna Internet di social media, para pemilik merek akan menghadapi risiko crisis management yang sudah dirasakan pahitnya oleh RS OMNI.
Catatan:
Tulisan ini dipersembahkan untuk Bubu Awards 2009.
Tautan: