mtcomm
Tampilkan postingan dengan label Kenapa Harus PR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kenapa Harus PR. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2011

Iklan TV masih efektif?


Di tengah maraknya penggunaan Social Media untuk menstimulus WoM. Tawaran iklan di media, tampaknya masih belum hilang pamor di kalangan  marketers. Dari polling yang diadakan majalah Marketing,  77% dari total 228 orang  masih menganggap iklan TV efektif. Benarkah demikian?
Iklan versus PR campaign. Rasanya perseteruan yang masih akan panjang. Baru-baru ini, Majalah Marketing (http://www.marketing.co.id/pollsarchive) mengadakan pooling menarik. Polling baru yang dilaksanakan April 2011 ini menanyakan apakah para marketer masih percaya kampanye iklan efektif?
Jawabannya ternyata adalah….. 77% dari total 228 perserta polling menganggap iklan TV masih efektif hingga sangat efektif! Hanya 19% yang menjawab kurang efektif dan 4% yang menyatakan tidak efektif.
The death of advertising, benarkah?
Waw, temuan ini tentu akan ditentang oleh para penganut aliran Word of Mouth (WoM) yang meyakini bahwa saat ini adalah eranya WoM online dan matinya era advertising (The Death of Advertising). Mereka beralasan bahwa dengan semakin segmented nya media, maka jumlah audience yang akan disasar juga akan semakin sedikit. Selain itu, kini, dengan semakin banyaknya orang yang terpapar dengan social media, maka akan lebih banyak lagi orang yang berinteraksi dengan sesame netter online sebelum memutuskan pembelian produk/jasa. Menurut mereka, sumber rekomendasi dari Social Media akan lebih kredibel dibandingkan iklan.
Ya, memang, dalam pyramid of advertising, ada lima tahapan  yang dialami seorang calon konsumen sebelum memutuskan membeli/memakai sebuah produk. Tahapan pertama adalah awareness, berlanjut ke interest, lalu credibility, desire dan action (http://www.wcyb.com/station/24819967/detail.html).
Harus diakui, TV memilki kredibilitas yang lebih rendah dibandingkan WoM atau penggunaan third party endorser.  Itu karena audiens tahu bahwa iklan TV adalah promosi berbayar yang merupakan upaya produsen untuk menjual produk mereka. Beda dengan third party enforsers yang dianggap lebih ‘tulus’ dan bebas kepentingan oleh para audiens.
Namun memang, dibandingkan promotional tools lainnya, iklan TV memiliki jangkauan yang terluas dan mampu memberikan awareness  dan mungkin interest.
Nah,kembali kini sekarang tergantung Anda. Apa sebenarnya tujuan dari promosi Anda.
Kalau untuk menjangkau tahap awarenss dan interest dan jangkauan adudiens yang luas, mungkin iklan TV masih bisa jadi pilihan. Tapi, kalau untuk membangun kredibilitas, well, sepertinya pendekatan WoM dan third party endorsers bisa jadi alternatif.
Atau Anda punya pendapat lain? Silakan berbagi.
Sumber foto: http://www.wcyb.com/station/24819967/detail.html

Pentingnya riset dan analisis dalam merancang program PR

Rahmi Nuraini | Insight, Research | September 10, 2011 | 0 Comments
Jangan sekali—kali membuat strategic planning berdasar common sense ! Karena program yang kita buat belum tentu sesuai dengan kondisi di lapang .Maraknya persaingan di antara konsultan baik di dunia marketing maupun public relations, seringkali memunculkan fenomena baru. Yaitu minimnya waktu untuk membuat sebuah program Marketing/PR. Kenyataan ini bisa dianggap sebagai tantagan, bisa juga dianggap sebagai ancaman. Menjadi tantangan jika, konsultan tersebut mampu secara cepat menemukan insight secara tepat. Menjadi ancaman jika, konsultan tersebut memilih berpihak pada common sense dan mengabaikan riset dan analisi dalam membuat program tersebut.
Riset dan analisis akan memberikan informasi yang mendalam pada suatu permasalahan yang kompleks dan ditemukan tidak setiap saat. Melalui riset kita dapat mengetahui latar belakang yang mendorong perilaku konsumen yang berhubungan dengan produk dari suatu brand.
Pemahaman customer insight akan menghubungkan konsumen secara emosional, bahwa suatu brand benar-benar mengetahui apa yang konsumen rasakan.  Penemuannya dapat didasarkan pada sesuatu yang menarik minat konsumen maupun penilaian konsumen terhadap brand value.
Sayangnya, untuk melakukan riset, baik kuantitatif maupun kualitatif (FGD, wawancara mendalam maupun etnografi) banyak konsultan yang terbentur dengan kendala biaya maupun waktu. Tentu, untuk mengatasinya kita perlu mau berinvestasi dana maupun waktu di bidang tersebut. Percayalah, investasi ini tak akan sia-sia karena akan menghasilkan program yang kredibel dan tepat sasaran.
Jika beberapa konsultan sudah membuat divisi tersendiri untuk melayani kebutuhan brand akan sebuah riset, maka inggal kesadaran perusahaan saja untuk mau mengkompesasinya dengan harga yang sesuai untuk kepentingan mereka sendiri. Karena sebuah program yang tepat akan mampu secara signifikan mampu meningkatkan penjualan produk maupun branding perusahaan tersebut. Istilah kata, ada harga, ada rupa…
Sumber Gambar : http://michealrussell.blogspot.com/2008_03_01_archive.html

Minggu, 28 Agustus 2011

Empat Tips untuk Personal Branding Yang Kuat


Rahmi Nuraini | Branding | May 28, 2011 | 0 Comments
Personal branding masih sering dianggap rumit. Munculnya banyak sekolah kepribadian tak otomoatis membuatnya menjadi mudah diterapkan. Namun sebenarnya, cukup berpegangan pada empat tips praktis ini, Anda bisa menciptakan branding diri yang kuat.  Apa saja itu? Simak tulisan berikut.Personal Branding sebenarnya secara prinsip tak beda dengan corporate branding. Hanya saja, jika yang company yang dibranding adalah sebuah lembaga atau perusahaan, maka pada personal branding, yang dibranding adalah diri pribadi seseorang.  Terkesan menjadi lebih rumit karena pada personal branding yang ‘diolah’ adalah sosok manusia hidup yang lebih mudah berubah daripada perusahaan.
Lalu apa saja ke-empat tips tersebut?
1. Nilai Jual Yang Unik
Identifikasi nilai jual Anda yang unik. Apa yang membuat Anda berbeda dari para pesaing Ada? Apakah kecepatan Anda dalam menyeleasikan tugas? Apakah Anda mampu memberikan kualitas unggul dalam pekerjaan Anda? Apakah  Anda mudah beradaptasi? Apakah Anda memiliki kemampuan menyederhanakan sesuatu yang rumit?  Coba Anda luangkan waktu untuk merenung dan berinstropeksi, tanya beberapa teman terdekat apa yang membuat diri Anda unik dibandingkan orang lainnya.
Misalnya: Anda seorang yang suka telat sehingga waktu pekerjaan Anda suka tersita. Ini sebenarnya bisa di-switch jadi  nilai jual yang unik, yaitu Anda adalah orang yang sibuk  dan mampu menuntaskan pekerjaan dengan efisien karena waktu yang terbatas. Jadi nilai jual positif bukan?
2. Competitive Analysis
Nah,  yang kedua adalah analisis kompetitif. Jangan resisten dulu. Walaupun terkesan canggih, istiah ini tidak seseram  yang Anda pikir. Ya, untuk personal branding, Anda hanya perlu rajin membuka mata dan telinga untuk melihat hal apa yang ‘dijual’ dalam personal branding competitor Anda. Lalu kalau memang itu sesuai dengan kompetisi dan nilai jual Anda, kemas lagi keunggulan tersebut dengan nilai tambah lainnya.
Misal: Anda seorang fitness trainer. Jika fitness trainer lainnya hanya menawarkan jasa training belaka, kenapa Anda tidak coba menggabungkannya dengan jasa konsultas memasak makanan sehat? Jadi selain pandai mengolah alat di Gym, Anda juga harus belajar pandai mengiolah bumbu dan alat dapur. Menarik bukan?
Selain memetakan kekuatan pesaing dan merumuskan keunikan Anda, apalagi tips selanjutnya untuk membentuk personal branding yang kuat? Berikut lanjutannya.
3. Nilai-nilai diri

Apa maksud dari nilai-nilai diri?Maksdunya adalah temukanlah nilai-nilai khas kepribadian Anda dan fokuslah pada nilai yang dirasa paling penting. Nilai-nilai ini berisi prinsip-prinsip tentang kebiasaan kerja dan cara interaksi dengan orang lain
Nilai-nilai inilah yang akan membimbing Anda untuk meraih kesuksesan di masa mendatang. Misalnya saja, kita ingin menunjukkan diri kepribadian diri yang cepat bergaul dengan orang lain. Maka, tonjolkanlah nilai itu sebagai dasar personal branding Anda.
4. Impresi (Kesan)
Impesi berkaitan dengan kesan orang lain yang tertanam di benaknya setelah berinteraksi dengan diri kita. Impresi ini akan memperkuat hubungan antara diri Anda dan ciri khas diri Anda. Impresi ini dapat berupa impresi positif dan negatif. Untuk menciptakan impresi positif, salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan menyertakan identitas kita dalam setiap karya yang kita buat. Identitas ini dapat berupa nama, no telepon, email, maupun foto yang dapat mengasosiasikan karya Anda dengan personal brand Anda.
Jika keempat tips (nilai jual yang unik, analisis competitor, nilai-nilai, impresi) ini diikuti, personal branding yang terbentuk merupakan representasi dari diri Anda. Bukan sekedar ikut-ikutan branding orang lain yang belum tentu sesuai dengan kepribadian diri kita. Selamat mencoba. (RN)

Top 5 Recommended Film for PR Practitioners


PR Practitioners, apakah anda termasuk pecinta Film? Kalo ya, bagus sekali, karena kami akan memberikan rekomendasi film bagus yang isi ceritanya terkait dengan dunia PR. Berikut adalah Lima rekomendasi  film-film yang ada hubungannya dengan dunia Public Relations:
Jerry Macguire
1) Wag The Dog
Presiden terlibat dalam skandal seks ketika sedang menjalankan proses pemilu, ‘Spin Doctor’ (pengkonsep propaganda-red) Robert De Niro dan produser Du
stin Hoffman membuat perang palsu untuk mengalihkan perhatian media. Sebuah film yang brilian, asalkan Anda tidak bekerja di PR. Hal ini dirilis terkait dengan affair yang dilakukan Lewinsky (dan menyebabkan aksi militer berikutnya di Irak, Sudan, Afghanistan dan Yugoslavia).
2) Jerry Maguire
Film Jerry dimulai dalam film khas PR (uang, jurnalis, telepon, dll) dan kemudian suatu malam dia mendapat pergolakan di hatinya dan memutuskan bahwa, sebenarnya, ia telah terlalu banyak klien. Dia ingin berhubungan dengan klien yang lebih sedikit. Lalu dia menulis memo yang bertuliskan, “Gets fired for it”, dan akhirnya ia hanya memiliki satu klien.

3) Power Absolute (Seri TV)
Pope Idol, penyakit palsu, spin Nazism yang bekerja untuk dua klien dalam kompetisi langsung; ini merupakan territorial ‘spin doctor’ yang sangat hebat dalam kekuasaan mutlak Stephen Fry. Ini sangat lucu untuk banyak alasan. Ya, kita terlihat mengerikan, tetapi kita bisa memulai sementara melakukannya.

4) Jersey Girl
Ben Affleck menangis kepada kliennya, Will Smith, dihadapan para wartawan. Sangat inspiring, sampai film kesalahan langkah yang dilakukan menjadi ‘makna sebenarnya dari kehidupan’. Film ini juga dilengkapi dengan adegan PR yang berguna seperti Ben yang menjelaskan untuk meredakan kekhawatiran warga New Jersey tentang pekerjaan konstruksi.
5) Phone Booth
Film ini tidak terlalu terkait dengan PR dan lebih berkaitan dengan Colin Farrell yang menangis kepada Jack Bauer melalui telepon. Dia adalah seorang PR – apakah membantu?

Selain 5 film diatas, ada juga beberapa rekomendasi film lain seperti : “Thank You for Smoking”, “Sliding Doors”, “The Candidate”  (1972), “The China Syndrom” (1979), “Sweet Smell of Success” (1957), “A Star is Born” (1937), dan “Miracle of the Bells” (1948).
Tertarik? Ada yang belum ditonton? Atau ada rekomendasi lain? Mari segera berburu film-filmnya.