mtcomm

Kamis, 15 September 2011

Penetrasi Ponsel di Segmen Remaja Naik 5X Lipat


Image 
Kalau pada 2009 belanja iklan industri telekomunikasi (telco) turun 11%, pada tahun lalu ad spend industri ini naik 43%! menjadi Rp 5,551 miliar. Menurut Viraj Juthani, Associate Director-Client Leadership Telecom Practice The Nielsen Company, pertumbuhan belanja iklan itu diikuti pertumbuhan penetrasi pengguna ponsel di Indonesia. Di sembilan kota yang disurvei oleh Nielsen pada tahun lalu, tingkat penetrasi ponsel meningkat mencapai 54%--tahun sebelumnya penetrasinya hanya 48%. Dengan kata lain, dari 45 juta penduduk di sembilan kota itu, ada 24,3 juta orang yang memiliki ponsel.

Berbicara pada konferensi pers kemarin, Viraj menilai unik tahap perkembangan penetrasi alat telekomunikasi di Indonesia. "Di sini telekomunikasi berkembang dari tidak terhubung menjadi terhubung langsung melalui ponsel, tidak melalui telepon rumah terlebih dahulu,” ujar Viraj.
Menurut Viraj pasar remaja telah menjadi pemicu cepatnya perkembangan industri telekomunikasi di Indonesia. Dalam lima tahun terakhir, katanya, pengguna ponsel usia remaja tumbuh sangat pesat—tingkat pertumbuhannya paling tinggi dibandingkan pertumbuhan di segmen umur lainnya. "Pengguna ponsel pada kelompok usia ini (10-14 tahun) meningkat lima kali lipat sejak tahun 2005,” jelas Viraj. Untuk itu, ia menganjurkan agar pemasar juga memfokuskan usaha mereka untuk mengembangkan produk yang cocok untuk kelompok usia yang lebih muda lagi, usia 10-14 tahun.

Viraj menambahkan bahwa segmen blue collar dan dan ibu rumah tangga pun punya andil dalam meningkatnya penetrasi ponsel di Indonesia. Sementara itu, penetrasi ponsel di antara kelompok usia 20-39 tahun masih tetap tinggi sejak lima tahun lalu.

Selanjutnya, Viraj juga mengungkapkan bahwa pengeluaran per bulan untuk telekomunikasi telah menurun dalam jangka waktu lima tahun. Data Nielsen menunjukkan bahwa 58% konsumen mengeluarkan kurang dari Rp 50 ribu per bulan di tahun ini. “Penurunan pengeluaran per bulan itu dapat berarti dua hal. Pertama adalah tarif mengalami penurunan sejak 2005. Kedua, masuknya segmen-segmen baru dengan kapasitas pengeluaran yang terbatas,” tutup Viraj. (M. Riski)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar