mtcomm

Minggu, 25 September 2011

Tabungan SIMPEDA bagi-bagi Hadiah Miliaran Rupiah

Setelah 6 bulan lalu di gelar di Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 14 Oktober nanti Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (ASBANDA) melalui Komite Penyelenggaraan Undian (KPU) Simpeda, kembali akan menggelar Panen Rejeki BPD di Jambi.

Panen Rejeki BPD merupakan perhelatan akbar yang melibatkan BPD seluruh Indonesia dan digelar guna menyapa para nasabah setianya dari Sabang - Merauki dengan persembahan hadiah sebesar 6 Miliar (diundi 2x setahun dg masing-masing periode sebesar Rp 3 M). Panen Rejeki BPD kali ini adl periode I tahun ke XXII-2011.

Dalam Penarikan Undian Nasional Tabungan SIMPEDA (Panen Rejeki BPD) kali ini ada sebanyak 538 nasabah bakal ketiban rejeki mulai dari nominal Rp 1.5 juta s/d Rp 500jt. Hanya dengan kelipatan saldo Rp 50rb anda mendapatkan 1 peluang untuk memanen rejeki tersebut.

Ketua KPU SIMPEDA yang juga Direktur Eksekutif Asbanda, Bp. Nazwar Nazir  menjelaskan bahwa Penarikan Undian Nasional Tabungan SIMPEDA kali ini selaku tuan rumah adalah Bank Jambi, dan setiap pelaksanaannya selalu berpindah-pindah dari BPD satu ke BPD lainnya. Tujuannya adalah selain untuk membangun visi kebersamaan, juga kita dapat mengenal lebih dekat masing-masing BPD / Daerah dengan beragam poitensinya. Dan potensi-potensi yang ada tersebut bisa kita gunakan sebagai acuan pengembangan bisnis BPD kedepannya.

Lebih jauh Bp Nazwar Nazir menjelaskan bahwa, selain undian SIMPEDA secara nasional, di masing-masing BPD juga menyelenggarakan undian Simpeda lokal dengan total hadiah beragam, mulai dari mobil mewah hingga Miliaran rupiah.Jadi kalau dijumlahkan hadiah tabungan SIMPEDA Bank Pembangunan Daerah ini puluhan Miliar Rupiah.

Asbanda secara khusus, selaku Asosiasi Bank Pembangunan Daerah yang beranggotakan 26 BPD seluruh Indonesia terus mendorong terwujudnya sebuah program dan layanan yang selain inovatif juga sesuai kebutuhan nasabahnya.

"Kini setelah tabungan SIMPEDA menjadi produk bersama BPD-SI, sejak 5 tahun lalu BPD bekerjasama dengan Arthajasa telah meluncurkan layanan  BPD Net Online. Sebuah layanan transaksi antar BPD secara RealTime (langsung sampai) dengan batasan dana hingga Rp 100 juta," jelas Nazwar Nazir.

Kamis, 15 September 2011

Iklan TV masih efektif?


Di tengah maraknya penggunaan Social Media untuk menstimulus WoM. Tawaran iklan di media, tampaknya masih belum hilang pamor di kalangan  marketers. Dari polling yang diadakan majalah Marketing,  77% dari total 228 orang  masih menganggap iklan TV efektif. Benarkah demikian?
Iklan versus PR campaign. Rasanya perseteruan yang masih akan panjang. Baru-baru ini, Majalah Marketing (http://www.marketing.co.id/pollsarchive) mengadakan pooling menarik. Polling baru yang dilaksanakan April 2011 ini menanyakan apakah para marketer masih percaya kampanye iklan efektif?
Jawabannya ternyata adalah….. 77% dari total 228 perserta polling menganggap iklan TV masih efektif hingga sangat efektif! Hanya 19% yang menjawab kurang efektif dan 4% yang menyatakan tidak efektif.
The death of advertising, benarkah?
Waw, temuan ini tentu akan ditentang oleh para penganut aliran Word of Mouth (WoM) yang meyakini bahwa saat ini adalah eranya WoM online dan matinya era advertising (The Death of Advertising). Mereka beralasan bahwa dengan semakin segmented nya media, maka jumlah audience yang akan disasar juga akan semakin sedikit. Selain itu, kini, dengan semakin banyaknya orang yang terpapar dengan social media, maka akan lebih banyak lagi orang yang berinteraksi dengan sesame netter online sebelum memutuskan pembelian produk/jasa. Menurut mereka, sumber rekomendasi dari Social Media akan lebih kredibel dibandingkan iklan.
Ya, memang, dalam pyramid of advertising, ada lima tahapan  yang dialami seorang calon konsumen sebelum memutuskan membeli/memakai sebuah produk. Tahapan pertama adalah awareness, berlanjut ke interest, lalu credibility, desire dan action (http://www.wcyb.com/station/24819967/detail.html).
Harus diakui, TV memilki kredibilitas yang lebih rendah dibandingkan WoM atau penggunaan third party endorser.  Itu karena audiens tahu bahwa iklan TV adalah promosi berbayar yang merupakan upaya produsen untuk menjual produk mereka. Beda dengan third party enforsers yang dianggap lebih ‘tulus’ dan bebas kepentingan oleh para audiens.
Namun memang, dibandingkan promotional tools lainnya, iklan TV memiliki jangkauan yang terluas dan mampu memberikan awareness  dan mungkin interest.
Nah,kembali kini sekarang tergantung Anda. Apa sebenarnya tujuan dari promosi Anda.
Kalau untuk menjangkau tahap awarenss dan interest dan jangkauan adudiens yang luas, mungkin iklan TV masih bisa jadi pilihan. Tapi, kalau untuk membangun kredibilitas, well, sepertinya pendekatan WoM dan third party endorsers bisa jadi alternatif.
Atau Anda punya pendapat lain? Silakan berbagi.
Sumber foto: http://www.wcyb.com/station/24819967/detail.html

Pentingnya riset dan analisis dalam merancang program PR

Rahmi Nuraini InsightResearch September 10, 2011 0 Comments
Jangan sekali—kali membuat strategic planning berdasar common sense ! Karena program yang kita buat belum tentu sesuai dengan kondisi di lapang .Maraknya persaingan di antara konsultan baik di dunia marketing maupun public relations, seringkali memunculkan fenomena baru. Yaitu minimnya waktu untuk membuat sebuah program Marketing/PR. Kenyataan ini bisa dianggap sebagai tantagan, bisa juga dianggap sebagai ancaman. Menjadi tantangan jika, konsultan tersebut mampu secara cepat menemukan insight secara tepat. Menjadi ancaman jika, konsultan tersebut memilih berpihak pada common sense dan mengabaikan riset dan analisi dalam membuat program tersebut.
Riset dan analisis akan memberikan informasi yang mendalam pada suatu permasalahan yang kompleks dan ditemukan tidak setiap saat. Melalui riset kita dapat mengetahui latar belakang yang mendorong perilaku konsumen yang berhubungan dengan produk dari suatu brand.
Pemahaman customer insight akan menghubungkan konsumen secara emosional, bahwa suatu brand benar-benar mengetahui apa yang konsumen rasakan.  Penemuannya dapat didasarkan pada sesuatu yang menarik minat konsumen maupun penilaian konsumen terhadap brand value.
Sayangnya, untuk melakukan riset, baik kuantitatif maupun kualitatif (FGD, wawancara mendalam maupun etnografi) banyak konsultan yang terbentur dengan kendala biaya maupun waktu. Tentu, untuk mengatasinya kita perlu mau berinvestasi dana maupun waktu di bidang tersebut. Percayalah, investasi ini tak akan sia-sia karena akan menghasilkan program yang kredibel dan tepat sasaran.
Jika beberapa konsultan sudah membuat divisi tersendiri untuk melayani kebutuhan brand akan sebuah riset, maka inggal kesadaran perusahaan saja untuk mau mengkompesasinya dengan harga yang sesuai untuk kepentingan mereka sendiri. Karena sebuah program yang tepat akan mampu secara signifikan mampu meningkatkan penjualan produk maupun branding perusahaan tersebut. Istilah kata, ada harga, ada rupa…
Sumber Gambar : http://michealrussell.blogspot.com/2008_03_01_archive.html

Metamorfosa Buzzword


Belum lama ini, beberapa merek minuman yang terkena “isu Natrium Benzoat” menyewa sebuah firma hukum. Mereka akan menuntut siapa pun yang menyebarkan isu itu, dengan cara apa pun. Iklan ancaman tersebut dimuat di Kompas(13/1/2007). Tampaknya tuntutan ini merupakan ujung kejengkelan mereka yang terkena dampak krisis Natrium Benzoat—yang dikabarkan bisa menyebabkan penyakit lupus—dan Aspartam.
Kejengkelan yang tidak berlebihan sebetulnya. Bagaimana tidak, bulan-bulan Berry (November, December, January dan February) adalah timing industri minuman harus berakrobat untuk menghindari dampak musim hujan. Belum lagi pemanasan untuk akrobat pemasaran dilakukan, mereka malah diterjang isu masif soal Natrium Benzoat.
Sialnya, upaya untuk mengklarifikasi bahwa isu tersebut adalah isu persaingan bisnis, juga tidak mendapat respon kuat dari publik. Sekalipun media memuat klarifikasi, tapi isu Natrium Benzoat yang menyebabkan lupus sudah melesat terlebih dulu ke dalam benak konsumen. Iklan, Press Conference, Surat Pembaca yang mencoba mengalihkan isu sudah tidak mendapat tempat lagi di benak mereka. Isunya sudah mengalami metamorfosa dari ”sekadar” soal pencantuman kandungan Natrium Benzoat, menjadi ”kebohongan publik” dan ”penyebab penyakit lupus”. Bahkan di kalangan penggila olahraga, muncul pertanyaan keras begitu ada teman mereka yang beli merek tertentu, ”Ente mau mati minum ‘X’?
Metamorfosa Buzz alias perubahan bentuk rumor, memang hal yang paling menyebalkan ketika menimpa citra merek. Hanya saja, ironisnya, merek-merek yang ditimpa bencana rumor seringkali melakukan aktivitas berkebalikan, dibandingkan saat mereka merayu konsumen. Ketika merayu konsumen, mereka sangat paham aspek perilaku dan emosi target market. Tapi begitu menghadapi krisis, mereka menggunakan tataran rasional. Aspek emosional dan perilaku justru dilupakan. Padahal tidak ada perbedaan cara berpikir konsumen, baik saat krisis maupun normal.
Ironi berikutnya, saat citra merek tunggang-langgang seperti ini, barulah mereka menggunakan Public Relations (PR) untuk mengembalikan kekuasaan brand mereka. Kasihan sekali, PR menjadi seperti “tukang cuci piring”—yang tidak pernah ikut makan, tapi dapat ampasnya. Kalau piringnya tidak bersih, PR-lah yang menjadi tertuduh; dianggap tidak siap menghadapi krisis.
Buzzing Audit
Layaknya sebuah sel, kelipatan perkembangan rumor sangat tergantung pada lahan di mana mereka berkembang biak. Semakin kondusif lahannya, semakin cepat pula perkembangannya. Dalam hal rumor, maka lahannya adalah pikiran kolektif yang terdapat dalam bawah sadar masyarakat (collective unconscious mind).
Sayang, sebuah merek seringkali lebih terpatok pada target market, kebutuhannya terhadap produk yang akan dijual, tapi sama sekali tidak melihat kemungkinan nilai merek (brand value). Hal ini bisa menjadi rumor yang menguntungkan atau justru mematikan  merek itu sendiri.
Beberapa merek sudah memanfaatkan buzzword untuk membangun efek word of mouth saat produk tersebut diluncurkan, tapi tidak sedikit yang melepas-bebaskanbuzzword yang mereka buat. Padahal, Buzzing akan lepas tidak terkendali, dan mengalami metamorfosa tergantung di mana isu itu berkembang. Kalau kita mengacu pada kasus Mizone, yang sebetulnya ”cuma” lupa mencantumkan kandungan Natrium Benzoat pada label kemasan, metamorfosanya melebar ke mana-mana. Mizone dianggap menipu, dan kandungan Natrium Benzoatnya diyakini menyebabkan lupus.
Mari kita buat simulasi kecil dalam pikiran kita. Seandainya sejak awal Mizone atau merek minuman lainnya mengedukasi pasar tentang kehebatan Natrium Benzoat; bagaimana Natrium Benzoat menyelamatkan kelaparan di daerah terpencil, menyelamatkan industri minuman global dan—yang terpenting—sangat tidak berbahaya untuk kesehatan.
Selain itu, mari kita simulasikan juga, seandainya Mizone dan merek lainnya melakukan audit rumor (Buzzing Audit). Mizone melakukan tracking, kira-kira pada jaringan-jaringan komunitas mana informasi tersebut akan diserap; bagaimana pola penyerapannya; lantas, perubahan informasi apa yang terjadi saat anggota komunitas tersebut menceritakan kembali kepada anggota komunitas lainnya. Apakah perubahan informasi (menjadi rumor) akan menguntungkan atau merugikan? Dan yang paling penting, bisakah kompetitor melakukan spinning informasi yang bertujuan untuk menghantam merek kita?
Seringkali merek-merek global punya confidence tinggi saat masuk ke pasar lokal, tanpa memperhatikan jaringan komunitas serta pola komunikasi di antara mereka. Harley Davidson pun, yang begitu kuat konsep komunitasnya, citranya menjadi sangat buruk di Indonesia; sekalipun memiliki komunitas yang sama loyalnya dengan Amerika. Starbucks, yang dikenal sebagai pelopor brand community, sempat terseok penjualannya saat masuk ke Surabaya. Domino Pizza, SubWay, dan Burger King adalah beberapa contoh merek global yang kandas di Indonesia. P&G juga harus mengalah dari Unilever yang rela menongkrongi aktivitas komunitas mereka di Indonesia.
Self-Educate Community
Jaringan komunitas memang bersifat dinamis dan sulit ditebak. Makanya, selain Buzzing Audit, juga diperlukan ketahanan untuk terlibat secara tulus dengan komunitas target market. Ironisnya, jaringan komunitas juga sangat sensitif terhadap intensitas. Jadi semakin intens kita berhubungan dengan komunitas, akan semakin tinggi tingkat ketergantungannya. Dengan kata lain, begitu kita turunkan intensitasnya, akan turun pula komitmennya terhadap merek kita.
Karena itu, sebaiknya—atau malah tidak ada pilihan lain—dalam melakukan edukasi pasar, kita harus mampu membangun komunitas yang mengedukasi komunitasnya itu sendiri. Jadi begitu kita lempar satu edukasi, sistem sel dalam jaringan tersebut langsung bergerak, dan saling mengedukasi satu sama lain.
Hal ini yang sempat dilupakan oleh beberapa merek saat membangun brand community. Banyak merek yang bersemangat menciptakan komunitas, dengan harapan komunitas tersebut bisa menyerap setiap produk dan mempertahankan loyalitas yang ada di pasar. Sayangnya, inisiatif (bahkan dana dan seremoni pembukaan) untuk membuat komunitas datang dari prinsipal merek. Wajar kalau kemudian komunitas itu hanya bergerak sesuai keinginan prinsipal, dan tergantung dana yang dimiliki prinsipal.
Seringkali juga, semangat untuk membangun komunitas juga sangat besar sehingga kita selalu membidik komunitas yang besar. Padahal, sebetulnya, bukankah setiap produk sudah memiliki komunitas itu sendiri? Alangkah indahnya kalau kita mulai dari yang kecil. Saat launching produk baru, misalnya, bikin jaringan-jaringan kecil yang sudah eksis menjadi punya “sense of belonging”. Jadi tidak sekadar bikin event besar dan semua orang tahu. Nanti pada periode tertentu, kita gabungkan jaringan-jaringan kecil itu dengan program experiential melalui keterikatan emosional.
Gampang? Tidak juga. Karena selain itu memang dibutuhkan endurance tinggi untuk membangun sebuah komunitas yang mampu mengedukasi diri sendiri. Tapi ini memang harus dicoba. Setidaknya, agar informasi produk kita tidak dimanfaatkan oleh kompetitor untuk menghantam diri sendiri. Itu akan sangat menyesakkan.
(Silih Agung Wasesa, Managing Partner & Senior Consultant Asia PR.)

Endorser Artis-Politikus – Tidak Dilarang, Tapi Penuh Risiko


Banyak artis yang terjun ke dunia politik. Bagaimana bila mereka kemudian menjadi bintang iklan suatu produk?
Kehidupan politik Tanah Air kian hari tampaknya kian ramai saja. Penuh dengan ingar-bingar kejadian yang kadang dramatis, mengundang kekaguman, tapi sering pula diwarnai dengan adegan lucu. Tak kalah seru tentunya adalah cerita tentang banyaknya politikus yang terjerat kasus korupsi.
Namun, di dalam kelamnya dunia politik negara ini, setidaknya ada bermunculan  “bintang-bintang” baru. Mereka membuat dunia politik semakin mirip dengan sinetron. Karena memang muka-muka baru ini adalah bintang sinetron, bintang film, dan bintang komedi. Intinya, mereka datang dari dunia entertainment.
Lalu, apa hubungan para bintang ini dengan dunia marketing? Tentu saja ada karena ada banyak di antara mereka yang terlibat dalam strategi pemasaran berbagai macam produk. Terutama, sebagai endorser suatu merek atau menjadi talent dalam iklan. Memang, belakangan ini, ada sejumlah merek yang menggunakan tokoh artis yang sekarang juga berpolitik. Misalnya Adjie Massaid yang menjadi talent Sunco, produk minyak goreng, dan Dede Yusuf di iklan motor merek Suzuki.
Pertanyaan selanjutnya, apakah dampak yang muncul ketika para artis-politikus ini menjadi bintang iklan sebuah produk? FX Ridwan Handoyo Ketua Badan Pengawas Periklanan PPPI dengan tegas menggaris bawahi bahwa hingga sekarang ini tidak ada aturan yang dilanggar oleh artis yang terjun ke dunia politik, lalu menjadi bintang iklan. “Apa yang dilakukan mereka tidak melanggar kode etik satu pun yang ada dalam kitab Etika Pariwara Indonesia,” jelasnya.
Selain aturan dalam Etika Pariwara Indonesia, negara ini juga belum punya regulasi khusus mengenai pejabat publik yang menjadi iklan produk. Sehingga, seorang presiden pun boleh semasa masih mengatasnamakan pribadi. Tapi, kalau membawa jabatan itu sudah bisa disebut iklan politik—bukan produk—dan tidak etis. Karena itu, konsumen harus bisa dengan jelas melihat apakah iklan tersebut iklan komersil atau iklan politik.
Ia justru mengingatkan bahwa yang jelas dilarang itu adalah orang dengan profesi tertentu menjadi bintang iklan. Misalnya, profesi dokter yang sangat terikat dengan sumpah profesi. “Karena profesi mereka melekat seterusnya. Tidak seperti politikus yang bisa keluar-masuk dunia politik semaunya.”
Lalu, benarkah sudah tidak ada masalah sama sekali? Menurut Ridwan pemilihan artis-politikus tentu akan membawa risiko lebih besar. Sebenarnya, risiko ini pun berlaku pada semua tokoh yang dipakai sebagai bintang iklan. Karena bisa saja tokoh yang tidak berpolitik image-nya jatuh lantaran masalah pribadi. Namun, pada artis-politikus risikonya menjadi lebih besar karena selain dilihat sebagai individu, juga akan dikaitkan dengan partainya. “Terlebih, semua talent iklan, baik tertulis atau tidak, diharapkan bisa mendukung citra produknya. Dan kalau mau aman, gunakan talentyang tidak dikenal sama sekali,” jelasnya.
Contohnya, bila artis biasa (bukan politikus) kedapatan menggunakan narkoba, bisa jadi semua iklannya akan diturunkan. Sedangkan, bila menggunakan artis politikus, bisa jadi si artis ini benar, tapi kebijakan partainya tidak populer atau bahkan mengecewakan rakyat. Ini pun akan mempengaruhi pada image artis dan akhirnya merembet ke produk.
Di sisi lain, pemilik merek biasanya hanya melihat artis tersebut dari kacamata kepopuleran yang melekat pada artis tersebut. Risiko akibat menjadi politikus biasanya dilihat belakangan. Nah, supaya risiko yang besar itu bisa diminimalisir, Ridwan wanti-wanti pada pemilik produk supaya selektif dalam memilih artis-politikus. Seperti integritas pribadi dan melihat kestabilan kepribadian. “Namun, tetap saja unsurgambling memilih endorser artis politikus tetap ada dan besar,” jelasnya.
Edi Darmawan, Manager 2W Marketing-Promotion & Dealer Dev. Section Head PT Indomobil Niaga International juga menyadari adanya risiko menggunakan artis-politikus sebagai endorser. Pihaknya sekarang ini menggunakan Dede Yusuf yang merupakan Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat sebagai endorser Suzuki Smash. Tapi, menurut Edi, proses itu terjadi di tengah jalan.
“Ketika menandatangani kontrak, Dede Yusuf belum bersiap maju dalam Pilkada Jabar. Dan, menjelang pembuatan iklan, ia baru memberi tahu. Tentu saja, kami pun kaget dan segera mencari semua aturan yang terkait dengan penggunaan politikus dalam iklan hingga ke Lembaran Negara. Hasilnya tidak ada aturan yang melarang,” jelas Edi.
Namun demikian, lanjutnya, bukan berarti mereka semua menjadi lega. Karena sangat sadar bahwa pilihan untuk terus menggunakan Dede Yusuf akan membawa konsekuensi besar pada produk. Artinya, sepak terjang Dede Yusuf akan berdampak pada performa produk. Baik sepak terjang saat kampanye, risiko tidak terpilih, dan kinerja saat menjadi pejabat bila terpilih.
Walaupun membawa segudang risiko, toh Suzuki tetap mempertahankan Dede Yusuf karena ketokohan dan integritas pribadinya. Artis ini dikenal memiliki wibawa, kharisma, dan bijaksana. “Menurut survei kami, calon pembeli Smash mengharapkan komunikasi sederhana dari sosok yang bisa memberi saran. Itulah salah satu pertimbangan kami memilih Dede Yusuf,” tambahnya.
Sedangkan objektif iklan itu sendiri adalah menggeser segmen Smash yang terlalu muda. Dan adanya Dede Yusuf akan memosisikan motor ini untuk kelompok usia di atas 20 tahun. Bahkan, setelah ada Dede Yusuf, tagline Smash pun sedikit ditambah. Bunyinya menjadi, “Lari lebih gesit, bensin makin irit, ini pilihan rakyat”.
Hasilnya? Diakui Edi karena performa Dede Yusuf cukup bagus dan terpilh menjadi wakil gubernur, brand awareness dan sales Suzuki Smash di Jawa Barat meningkat. Meski begitu, ia tidak bersedia merinci angka pastinya. Sementara menurut data AISI, hingga September 2008 total penjualan motor Suzuki sekitar 637.000 unit. Atau menguasai sekitar 13% market share kendaraan roda dua. (Ign. Eko Adiwaluyo)

Trend Periklanan – Beralih ke Media Digital


Tahun depan marketer harus bijak menggelontorkan dana advertising. Selain karena pemilu, juga lantaran imbas krisis finansial global. Hijrah ke media digital menjadi alternatif.
Kondisi krisis keuangan global berdampak ke semua lini kehidupan bisnis. Salah satunya pada dunia periklanan. Mau tidak mau, dengan kondisi mata uang rupiah yang anjlok terhadap dolar, para marketer harus bisa bijak dalam mengelola anggaran belanja promosi dan iklannya. Hal ini dikatakan oleh pengamat periklanan Irfan Ramli.
“Kondisi ini yang terus berlanjut di tahun depan ini akan mengubah strategi periklanan. Ini akan terasa di kota-kota besar. Tren yang akan muncul tahun depan adalah penggunaan digital medium yang berbasis internet,” katanya.
Dengan kata lain, belanja iklan berbasis media cetak akan mengalami penurunan. Namun, Irfan belum bisa memperkirakan berapa porsi perbandingan belanja media iklan fisik dengan media digital.  Media digital ini meliputi berbagai situs, blog, dan jejaring sosial lainnya. “Kita bisa belajar dari China. Negeri ini selama tiga tahun terakhir sudah menggunakan digital medium sebesar 16% dari total porsi iklan.”
Irfan mengatakan dalam meneropong kondisi periklanan pada tahun 2009, tidak boleh dilepaskan dari evaluasi kondisi belanja iklan tahun ini. Menurut survei Nielsen Media Research Indonesia, pada semester I tahun 2008, belanja iklan hotline serviceparty line, dan ramalan bintang meroket. Lonjakannya bisa mencapai angka 81% dibandingkan dengan semester I tahun 2007. Bila diuangkan, belanja iklan SMS ini mencapai Rp 556 miliar. Padahal tahun 2007 cuma sebesar Rp 307 miliar.
Angka ini mampu mendongkrak total belanja iklan pada semester I tahun 2008 sebesar Rp 19, 56 triliun, yang artinya tumbuh 24% dibandingkan tahun sebelumnya. “Iklan model ini naik karena masyarakat Indonesia senang dengan hiburan-hiburan macam itu. Tahun ini juga ada kejuaraan Piala Eropa 2008 di mana SMS tebak skor dan berbagaigimmick-nya cukup besar,” papar Irfan.
Dari Top 10 kategori di seluruh media berdasar riset Nielsen, belanja iklan terbesar dari Januari-September 2008 ada di kategori komunikasi, yaitu sebesar Rp 3,4 triliun. Perolehan ini naik 75% dari tahun 2007 pada kuartal yang sama. Urutan kedua dipegang oleh pemerintah dan partai politik dengan angka Rp 1,3 triliun. Disusul iklan kendaraan dan iklan perusahaan. Dari total biaya iklan komunikasi itu, merek Excelcomindo (XL) menempati urutan tertinggi dengan belanja iklan sebesar Rp 301, 1 miliar yang naik 325% dari tahun lalu (lihat tabel).
Dari keseluruhan itu, total belanja iklan di televisi sebesar Rp 19, 6 triliun (naik 16%), surat kabar sebesar Rp 10,5 triliun (naik 34%), majalah dan tabloid sebesar Rp 1,2 triliun (naik 26%).
Iklan televisi, menurut Sekretaris Jenderal Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) ini, masih mendominasi. Meski demikian jumlahnya tidak sebesar dua tahun terakhir ini. Nasib yang sama juga akan dialami oleh print ad.  Termasuk iklan bilboard, iklan outdoor dan indoorlainnya. “Lima sampai enam tahun ke depan, di mana era paperlesssemakin terasa, iklan model ini tentu akan mengalami penurunan. Tapi, bukan sekarang ini,” katanya.
Dalam kondisi krisis ini, para rumah produksi dan prinsipal, akan lebih hati-hati dalam melangsungkan relasi B-to-B mereka. “Klien akan lebih hati-hati dalam berhitung. Cost sebisa mungkin harus mengena target yang mau dicapai. Bijaksana menggunakan anggaran menjadi sangat penting,” imbuh Irfan.
Tahun 2009 merupakan tahun istimewa karena ada pemilu calon presiden. Irfan mengatakan iklan pemerintah dan partai-partai politik akan meramaikan tahun ini. Kemungkinan akan ada kenaikan anggaran di semester II tahun 2008 ini. Asal tahu saja, belanja iklan parpol dan pemerintah pada tahun 2004 sebesar Rp 400 miliar. Sampai bulan lalu, belanja iklan buat Pemilu 2009 sudah mencapai Rp 800 miliar. Angka ini tentu saja akan terus bertambah.
“Sebenarnya, tahun depan sungguh menarik. Saat dunia sedang dilanda krisis keuangan global, negeri kita sedang melaksanakan hajatan pemilu. Tentu hajatan ini juga membutuhkan biaya yang tidak kecil. Kita lihat saja nanti bagaimana partai politik mengelola anggaran tersebut,” katanya.
Irfan sendiri mengharapkan kompetisi iklan parpol ini tetap menjaga etika pariwara Indonesia dan situasi yang positif. Dalam situasi seperti ini, menurut Irfan, dibutuhkan prediksi keuangan yang mendekati tepat. Kalau salah langkah dan perhitungan, akibatnya bisa fatal.
“Apalagi fluktuasi dolar naik turun. Bahkan, siapa mengira krisis ini akan bersamaan dengan pemilu. Tahun depan, imbasnya pasti masih terasa,” ujarnya.
Akan tetapi, Irfan masih merasa optimistis dengan kondisi sekarang. Baginya, krisis sekarang tidak akan parah seperti krisis di tahun 1998. Oleh karena itu, ada beberapa strategi yang mesti dilakukan untuk menyongsong tahun 2009. “Yang pertama, kita harus pandai dalam membaca pasar dengan cermat. Perlu melihat celah di mana kita bisa mengelola itu semua dengan efisien,” saran Irfan.
Selain itu, perlu upaya keras untuk semakin mendekatkan diri pada target pasar dengan multi-cara.  Dan, yang tidak diperbolehkan, menurut Irfan, yakni berhenti beriklan. “Jangan pernah berhenti beriklan saat krisis. Entah dengan cara apa pun yang lebih efisien. Ini akan menyelamatkan brand yang sudah ada dan dikenal di masyarakat. Ini bukan ajakan untuk habis-habisan,” tandasnya. (Sigit Kurniawan)