Pernah mendengar istilah PR 2.0 ? Mungkin banyak praktisi PR yang sudah akrab dengan istilah ini. Namun, sejauh mana PR mampu diterjemahkan melalui strategi social media ?
YA, pertanyaan ini yang mengemuka dalam acara “Digital Marketing Conference 2011” yang dilaksanakan Rabu lalu (10/8) di Hotel JW Marriot Jakarta. Seminar ini memang banyak berbicara tentang media digital dan marketing.
Melalui PR 2.0, sebuah brand akan belajar bagaimana memanfaatkan kekuatan teknologi untuk menciptakan strategi pemasaran baru melalui social media, website, search engine, mobile, game dan media digital lainnya. Saat ini, teknologi telah menyatukan kita semua dimana konektivitas telah menjadi kebutuhan bukan barang mewah. Pesan dengan sendirinya dapat tersebar secara instan melalui word of mouth. Karena setiap orang secara bebas dapat membuka hubungan baru, membagi ide, opini dan pengalaman mereka.
Lantas bagaimana sebenarnya trend dari pengguna social media yang disebut dengan Generasi C ini ? Mereka adalah orang-orang multitasking dan multiconversation dengan karakter less time, less attention, less ignorance, less stability dan less loyalty.
Menurut hasil penelitian 6.1 hari dalam satu minggu dihabiskan orang untuk mengakses internet. Jika dihubungkan dengan pemasaran brand, meskipun pembelian secara online meningkat, , trend konsumen sekarang masih mengakses informasi melalui online dan melakukan pembelian melalui offline.
Tantangan pemasar sekarang adalah menggabungkan strategi online dan offline agar bisa memaksimalkan pemasaran product. Seperti halnya yang telah dilakukan beberapa brand seperti XL, Esia, Yamaha, Coca-Cola, Pocari Sweat, dan Nokia Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar