Banyak yang mengira bahwa manajemen krisis hanya perlu dilakukan pada saat krisis PR/komunikasi terjadi. Padahal tidak demikian. Ada lima (5) tahap yang perlu dilakukan agar sebuah perusahaan/ lembaga dapat mengantisipasi krisis komunikasi yang akan terjadi.
Krisis dalam kaca mata public relations tidak selalu diidentikkan dengan ancaman. Krisis, apakah itu disebabkan oleh faktor internal (konflik karyawan, konflik manajemen, kegagalan produk) ataupun faktor eksternal (tuntutan komsumen, perubahan kebijakan pemerintah ataupun konflik elit polotis) seringkali malah dianggap sebagai sebuah kesempatan untuk membangun citra secara lebih cepat.
Tentu saja, itu sepenuhnya tergantung pada bagaimana krisis tersebut dikelola. Akhir dari suatu krisis biasanya merupakan awal dari krisis yang lain. Oleh karena itu, strategi manajemen krisis yang baik senantiasa dievaluasi dan diperbaharui sesuai dengan perkembangan yang terjadi di lingkungan organisasi
Untuk itu dalam mempersiapkan penanganan krisis perlu mekanisme perencanaan yang tepat yang tergambar dalam enam tahapan di bawah yaitui:
1. Identifikasi dengan tepat bidang-bidang kegiatan yang mudah menimbulkan krisis. Misalnya kegiatan after sales, pembelian, pelayanan pelanggan dan sebagainya. Setelah bagian-bagian ini diidentifikasi baru kemudian dirancang suatu sistem peringatan dini berupa sistem pelaporan top-down dan bottom- up untuk mencegah membesarnya krisis.
2. Bentuk dan latih tim manajemen krisis. Pembentukan tim manajemen krisis menggunakan pertimbangan fungsional perusahaan, seperti public relations, hukum, atau produksi. Tentukan siapa saja yang akan ditunjuk menjadi juru bicara dan mengontrol informasi yang harus dikeluarkan agar tidak membingungkan khalayak sasaran. Tentukan media yang akan digunakan untuk menyampaikan pesan dan pastikan pesan yang akan dikomunikasikan. diatas.
3. Lakukan Manajemen Isu sebagai bentuk pencegahan krisis. Manajemen isu dapat dilakukan dengan memonitor lingkungan, mencermati trend/isu baru di masyarakat yang mungkin mempengaruhi organisasi di masa mendatang. Mengumpulkan data atas isu-isu yang berpotensi menjadi krisis dan mengevaluasinya. Mengembangkan strategi komunikasi dan berkonsentrasi pada usaha mencegah terjadinya krisis. Satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan belajar dari krisis yang dihadapi oleh organisasi lain yang sejenis dengan aktivitas organisasi kita.
4. Pada saat ternyata terjadi krisis lakukan komunikasi dengan content dan channel yang tepat. Gunakan pula third party endorsers untuk membantu memperbaiki krisis kepercayaan yang terjadi. Tidak panik dan lakukan prosedur komunikasi krisis yang sudah direncanakan sejak awal.
5. Hubungan dengan public atau media harus tetap dijalin pasca krisis. Ini untuk memastikan bahwa hubungan jangka panjang tetap terjalin meskipun krisis sudah lewat. Hal ini penting untuk mengurangi kerusakan akibat krisis PR yang terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar