mtcomm

Minggu, 28 Agustus 2011

CSR, Bukan Cuma Sekedar Peduli Kasih


Bagi anda para praktisi komunikasi, terutama PR, pasti telah akrab di telinga anda mengenai CSR (Corporate Social Responsibility) kan? Ya, program ini sedang marak dilakukan oleh organisasi / perusahaan seperti yang telah tertuang  dalam UU No.40 Tahun 2007 pasal 74, UU No 25/2007 tentang Penanaman Modal Pasal 15, ataupun UU No 19/2003 tentang BUMN pasal 88.
Kini banyak perusahaan yang memilih membangun puskesmas, memodali peternak sapi, membangun tempat ibadah, kegiatan donor darah dan masih banyak lainnya sebagai kegiatan CSR mereka. Cakupan program CSR memang sangat luas, mulai dari bantuan yang bersifat charity, pengentasan kemiskinan, ketenagakerjaan, pendidikan, beasiswa, kesehatan, infrastruktur hingga penanggulangan bencana.
Tapi, CSR tidak hanya sekedar peduli kasih. CSR harus diarahkan menjadi bagian dari proses pembangunan yang berkelanjutan, pembangunan nasional, pembangunan daerah serta tanggung jawab terhadap lingkungan secara berkelanjutan. Dimana, program CSR yang berkelanjutan diharapkan akan bisa membentuk atau menciptakan kehidupan masyarakat mandiri dan sejahtera.
Satu hal yang harus dicatat, CSR tidak boleh menempatkan masyarakat sekadar sebagai obyek. “Perusahaan dan masyarakat harus lebih dahulu merumuskan program apa yang hendak dijalankan di suatu lokasi,” kata Dedi M. Masykur Riyadi, seorang pejabat tinggi Bappenas, seperti yang dilansir majalah Swara Cinta.
Ya, banyak cara, banyak pilihan untuk melakukan kegiatan CSR yang sesuai dengan tujuan perusahaan. Satu hal yang pasti, CSR sudah terbukti membawa manfaat kepada banyak pihak, baik bagi perusahaan, pemerintah maupun masyarakat.
Rencanakanlah CSR perusahaan anda sebaik mungkin dengan program-program yang bisa meningkatkan produktivitas. Jadi, apa program CSR perusahaan anda tahun ini?

Getuk Tular : Word of Mouth ala Indonesia


Word of  mouth tak melulu harus dilakukan dengan campaign masif, tools social media canggih dan oleh  perusahaan besar. Getuk tular, yang merupakan budaya kita sejak dulu sebenarnya juga merupakan bentuk word of mouth. Bisa dipraktekkan untuk semua dan oleh semua.
Bu Broto baru saja membuka warung baru. Sekilas tampaknya akan sulit ia bersaing. Di deretan ruko warung barunya itu sudah terdapat beberapa warung dan restoran kecil. Ada warung Padang, warung nasi rames dan warung gado-gado. Bagaimana cara ia menarik konsumen?
Alih-alih menggunakan spanduk (seperti biasa yang dilakukan oleh warung lain) atau menggunakan flyers yang ditempel di tiang-tiang listrik untuk promosi, ia menggunakan resep promosi tradisional yang ampuh: getuk tular.
Caranya? Mudah saja. Ia undang para ojegers (pengemudi ojeg) yang biasa mangkal di ujung jalan untuk bertandang ke warungnya dan…….makan gratis! Ia suguhkan menu andalannya berupa ayam penyet kepada para ojegers tersebut yang tentunya……makan dengan amat lahap.
Bagaimana kira-kira hasilnya? Bisa ditebak, sejak acara makan gratis itu, para ojegers ini menjadi ‘brand ambassador’ warung Bu Broto kepada setiap penumpang yang naik ojeg mereka  tentang betapa enaknya pecel ayam itu, tanpa dibayar,dengan tulus ikhlas.
Jika saja ada 10 ojeg saja yang Bu Broto traktir dan setiap ojeg per hari bisa menarik 5 orang penumpang saja,berarti warung Bu Broto ini  sudah mampu berpromosi kepada 50 orang. Dan ketika orang-orang ini pulang ke rumah dan mengabarkan kepada anggota keluarga yang lain, bisa dibayangkan betapa ampuhnya getuk tular ala Bu Broto. Bahkan, saya pun tahu kabar tentang warung Bu Broto ini dari ojeg yang saya tumpangi dan ikut-ikutan mengabarkannya ke keluarga di rumah.
PR untuk semua, oleh semua
Jika kita jeli, kita akan dapatkan bahwa elemen-elemen dalam Public Relations adalah elemen kehidupan yang dapat kita temui sehari-hari. Elemen itu tak selalu berarti teori-teori yang canggih dan berbahasa Inggris nan rumit. Elemen itu sebenarnya sudah kita praktikkan sehari-hari  dan dapat kita temui dimana saja. Itu karena pada dasarnya tujuan dari public relations itu adalah menjalin hubungan baik dan pemahaman bersama (Mutual Understanding). Tools nya ya salah satunya adalah Getuk Tular atau yang diistilahkan dengan canggih saat ini sebagai Word of Mouth dan menggunakan channel social media Internet.
Namun selain itu, banyak praktik PR lain yang sebenarnya dapat kita temui dalam keseharian. Dimulai dari tukang bakso yang selalu menyapa dengan senyum tulus saat bertemu di jalan, hingga customer service Bank yang hafal nama kecil kita saat berkunjung ke gerai.
Jad, jelaslah bahwa PR itu untuk semua dan bisa dilakukan oleh semua. atau mungkin Anda juga punya pengalaman menarik tentang praktek-praktek PR di keseharian Anda? Silakan berbagi.
Foto: http://starcom-selalubersinar.blogspot.com/

Perencanaan Manajemen Krisis


Banyak yang mengira bahwa manajemen krisis hanya perlu dilakukan pada saat krisis PR/komunikasi terjadi. Padahal tidak demikian. Ada lima (5) tahap yang perlu dilakukan agar sebuah perusahaan/ lembaga dapat mengantisipasi krisis komunikasi yang akan terjadi.


Krisis dalam kaca mata public relations tidak selalu diidentikkan dengan ancaman. Krisis, apakah itu disebabkan oleh faktor internal (konflik karyawan, konflik manajemen, kegagalan produk) ataupun faktor eksternal (tuntutan komsumen, perubahan kebijakan pemerintah ataupun konflik elit polotis) seringkali malah dianggap sebagai sebuah kesempatan untuk membangun citra secara lebih cepat.
Tentu saja, itu sepenuhnya tergantung pada bagaimana krisis tersebut dikelola. Akhir dari suatu krisis biasanya merupakan awal dari krisis yang lain. Oleh karena itu, strategi manajemen krisis yang baik senantiasa dievaluasi dan diperbaharui sesuai dengan perkembangan yang terjadi di lingkungan organisasi
Untuk itu dalam mempersiapkan penanganan krisis perlu mekanisme perencanaan yang tepat yang tergambar dalam enam tahapan di bawah yaitui:
1. Identifikasi dengan tepat bidang-bidang kegiatan yang mudah menimbulkan krisis. Misalnya kegiatan after sales, pembelian, pelayanan pelanggan dan sebagainya. Setelah bagian-bagian ini diidentifikasi baru kemudian dirancang suatu sistem peringatan dini berupa sistem pelaporan top-down dan bottom- up untuk mencegah membesarnya krisis.
2. Bentuk dan latih tim manajemen krisis. Pembentukan tim manajemen krisis menggunakan pertimbangan fungsional perusahaan, seperti public relations, hukum, atau produksi. Tentukan siapa saja yang akan ditunjuk menjadi juru bicara dan mengontrol informasi yang harus dikeluarkan agar tidak membingungkan khalayak sasaran. Tentukan media yang akan digunakan untuk menyampaikan pesan dan pastikan pesan yang akan dikomunikasikan. diatas.
3. Lakukan Manajemen Isu sebagai bentuk pencegahan krisis. Manajemen isu dapat dilakukan dengan memonitor lingkungan, mencermati trend/isu baru di masyarakat yang mungkin mempengaruhi organisasi di masa mendatang. Mengumpulkan data atas isu-isu yang berpotensi menjadi krisis dan mengevaluasinya. Mengembangkan strategi komunikasi dan berkonsentrasi pada usaha mencegah terjadinya krisis. Satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan belajar dari krisis yang dihadapi oleh organisasi lain yang sejenis dengan aktivitas organisasi kita.
4. Pada saat ternyata terjadi krisis lakukan komunikasi dengan content dan channel yang tepat. Gunakan pula third party endorsers untuk membantu memperbaiki krisis kepercayaan yang terjadi. Tidak panik dan lakukan prosedur komunikasi krisis yang sudah direncanakan sejak awal.
5. Hubungan dengan public atau media harus tetap dijalin pasca krisis. Ini untuk memastikan bahwa hubungan jangka panjang tetap terjalin meskipun krisis sudah lewat. Hal ini penting untuk mengurangi kerusakan akibat krisis PR yang terjadi.

SELAMAT IDUL FITRI


Ketika PR hadir di Dunia Online


Asia PR DigitalTalkshow August 18, 2011 0 Comments
Pernah mendengar istilah PR 2.0 ? Mungkin banyak praktisi PR yang sudah akrab dengan istilah ini. Namun, sejauh mana PR mampu diterjemahkan melalui strategi social media ? 
YA, pertanyaan ini yang mengemuka dalam acara “Digital Marketing Conference 2011” yang dilaksanakan Rabu lalu (10/8) di Hotel JW Marriot Jakarta. Seminar ini memang banyak berbicara tentang media digital dan marketing.
Melalui PR 2.0, sebuah brand akan belajar bagaimana memanfaatkan kekuatan teknologi untuk menciptakan strategi pemasaran baru melalui social media, website, search engine, mobile, game dan media digital lainnya. Saat ini, teknologi telah menyatukan kita semua dimana konektivitas telah menjadi kebutuhan bukan barang mewah. Pesan dengan sendirinya dapat tersebar secara instan melalui word of mouth. Karena setiap orang secara bebas dapat membuka hubungan baru, membagi ide, opini dan pengalaman mereka.
Lantas bagaimana sebenarnya trend dari pengguna social media yang disebut dengan Generasi C ini ? Mereka adalah orang-orang multitasking dan multiconversation dengan karakter less time, less attention, less ignorance, less stability dan less loyalty.
Menurut hasil penelitian 6.1 hari dalam satu minggu dihabiskan orang untuk mengakses internet. Jika dihubungkan dengan pemasaran brand, meskipun pembelian secara online meningkat, , trend konsumen sekarang masih mengakses informasi melalui online dan melakukan pembelian melalui offline.
Tantangan pemasar sekarang adalah menggabungkan strategi online dan offline agar bisa memaksimalkan pemasaran product. Seperti halnya yang telah dilakukan beberapa brand seperti XL, Esia, Yamaha, Coca-Cola, Pocari Sweat, dan Nokia Indonesia.

Bukan “Hashtag” Biasa, Tips n’ Trik Promosi via Twitter


Apa itu Hashtag?
Hashtag atau # adalah keyword atau tag yang ada pada pesan twitter. Ini bertujuan untuk memudahkan twitter kita untuk terindeks dalam mesin pencari seperti Google,Yahoo, Bing dan lainnya. Dengan adanya tag juga, twitter kita akan mudah tercari pada twitter search. Jika pengguna twitter mencari dengan sebuah kunci maka twitter tersebut akan menempati peringkat pertama. Hashtag biasanya di pakai untuk memisahkan suatu topik yang sedang berkembang atau mereka bicarakan. Selain itu kelebihan sebuah hastags adalah memudahkan orang untuk mencari pesan-pesan di twitter (http://search.twitter.com).
Ternyata  kemudahan hashtag ini di pakai oleh beberapa perusahaan untuk membuat topik hangat yang membicarakan produk mereka dengan membuat brand hashtag di twitter. Bahkan banyak yang menggunakan hashtag tidak sekedar sebagai ‘topik’ yang berkembang, tetapi juga digunakan oleh berbagai ‘kampanye’, ada yang berbentuk social movement, promosi produk, kampanye komunikasi, ataupun sekedar menebar topik agar menjadi ‘Trending topic‘ di Twitter.
Tetapi, membuat hashtag yang tujuannya untuk promosi brand, ternyata gampang-gampang susah. Hashtag yang dibuat harus eyecatching dan mudah diingat oleh para warga Twitter, karena jika terlalu ‘hambar’ maka awareness tentang produk tidak akan terbentuk. Jadi, hashtag yang dibuat adalah ‘Bukan Hashtag Biasa’, hehe..
Berikut ada beberapa tips dan trik dalam membuat hashtag dengan tujuan sebagai media promosi :
1. Selalu gunakan ‘#‘ di depan frase yang digunakan. Ini adalah hal penting dalam membedakan kata biasa dan kata yang menjadi hashtag. Jika ada tanda # di depan frase, kata tersebut akan masuk secara otomatis ke dalam search engine
2. Gunakan frase yang gampang diingat. Tentunya hal ini bertujuan untuk memudahkan tercapainya awareness terhadap brand,  memudahkan siapapun ‘penghuni’ Twitter untuk bisa ‘nimbrung’ dalam topik yang diangkat, dan  memudahkan orang ‘mencari’ dalam search engine
3. Sesuaikan dengan tujuan promosi / kampanye komunikasi. Tentukan frase yang digunakan sesuai dengan tujuan promosi / kampanye komunikasi yang dilakukan, contoh : #Bajubagus, #MobilMurah, #UntungAdaAsuransi atau apapun. Sebaiknya penentuan frase ini dilakukan dengan merumuskan atau mengkonsultasikan hal ini bersama tim anda.
4. Jangan gunakan ‘spasi’ antar kata dalam menuliskan hashtag. Kalau tag itu terdiri lebih dari satu kata maka penulisannya mesti disambung karena jika tidak disambung kata pertama saja yang menjadi hashtag sedangkan kata kedua akan menjadi tulisan yang biasa dan tidak bisa menjadi hashtag.
5. Pantau perkembangan traffic hashtag anda. Jika anda mau mencari sebuah trend hashtag bisa dicari di http://hashtags.org Di sana kita bisa mencari sesuatu yang kita cari yang lagi di bahas banyak orang. Mungkin #SEO, #indonesiaunite, #omagus dll. Anda bisa tau siapa saja yang udah nyenggol hastag itu. Setelah memasukan kata hastagnya akan terlihat siapa saja yang masuk dan juga traffic untuk hastag tersebut. bisa juga di lihat di http://trendistic.com/
Penasaran? Ya, selamat mencoba!

Empat Tips untuk Personal Branding Yang Kuat


Rahmi Nuraini Branding May 28, 2011 0 Comments
Personal branding masih sering dianggap rumit. Munculnya banyak sekolah kepribadian tak otomoatis membuatnya menjadi mudah diterapkan. Namun sebenarnya, cukup berpegangan pada empat tips praktis ini, Anda bisa menciptakan branding diri yang kuat.  Apa saja itu? Simak tulisan berikut.Personal Branding sebenarnya secara prinsip tak beda dengan corporate branding. Hanya saja, jika yang company yang dibranding adalah sebuah lembaga atau perusahaan, maka pada personal branding, yang dibranding adalah diri pribadi seseorang.  Terkesan menjadi lebih rumit karena pada personal branding yang ‘diolah’ adalah sosok manusia hidup yang lebih mudah berubah daripada perusahaan.
Lalu apa saja ke-empat tips tersebut?
1. Nilai Jual Yang Unik
Identifikasi nilai jual Anda yang unik. Apa yang membuat Anda berbeda dari para pesaing Ada? Apakah kecepatan Anda dalam menyeleasikan tugas? Apakah Anda mampu memberikan kualitas unggul dalam pekerjaan Anda? Apakah  Anda mudah beradaptasi? Apakah Anda memiliki kemampuan menyederhanakan sesuatu yang rumit?  Coba Anda luangkan waktu untuk merenung dan berinstropeksi, tanya beberapa teman terdekat apa yang membuat diri Anda unik dibandingkan orang lainnya.
Misalnya: Anda seorang yang suka telat sehingga waktu pekerjaan Anda suka tersita. Ini sebenarnya bisa di-switch jadi  nilai jual yang unik, yaitu Anda adalah orang yang sibuk  dan mampu menuntaskan pekerjaan dengan efisien karena waktu yang terbatas. Jadi nilai jual positif bukan?
2. Competitive Analysis
Nah,  yang kedua adalah analisis kompetitif. Jangan resisten dulu. Walaupun terkesan canggih, istiah ini tidak seseram  yang Anda pikir. Ya, untuk personal branding, Anda hanya perlu rajin membuka mata dan telinga untuk melihat hal apa yang ‘dijual’ dalam personal branding competitor Anda. Lalu kalau memang itu sesuai dengan kompetisi dan nilai jual Anda, kemas lagi keunggulan tersebut dengan nilai tambah lainnya.
Misal: Anda seorang fitness trainer. Jika fitness trainer lainnya hanya menawarkan jasa training belaka, kenapa Anda tidak coba menggabungkannya dengan jasa konsultas memasak makanan sehat? Jadi selain pandai mengolah alat di Gym, Anda juga harus belajar pandai mengiolah bumbu dan alat dapur. Menarik bukan?
Selain memetakan kekuatan pesaing dan merumuskan keunikan Anda, apalagi tips selanjutnya untuk membentuk personal branding yang kuat? Berikut lanjutannya.
3. Nilai-nilai diri

Apa maksud dari nilai-nilai diri?Maksdunya adalah temukanlah nilai-nilai khas kepribadian Anda dan fokuslah pada nilai yang dirasa paling penting. Nilai-nilai ini berisi prinsip-prinsip tentang kebiasaan kerja dan cara interaksi dengan orang lain
Nilai-nilai inilah yang akan membimbing Anda untuk meraih kesuksesan di masa mendatang. Misalnya saja, kita ingin menunjukkan diri kepribadian diri yang cepat bergaul dengan orang lain. Maka, tonjolkanlah nilai itu sebagai dasar personal branding Anda.
4. Impresi (Kesan)
Impesi berkaitan dengan kesan orang lain yang tertanam di benaknya setelah berinteraksi dengan diri kita. Impresi ini akan memperkuat hubungan antara diri Anda dan ciri khas diri Anda. Impresi ini dapat berupa impresi positif dan negatif. Untuk menciptakan impresi positif, salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan menyertakan identitas kita dalam setiap karya yang kita buat. Identitas ini dapat berupa nama, no telepon, email, maupun foto yang dapat mengasosiasikan karya Anda dengan personal brand Anda.
Jika keempat tips (nilai jual yang unik, analisis competitor, nilai-nilai, impresi) ini diikuti, personal branding yang terbentuk merupakan representasi dari diri Anda. Bukan sekedar ikut-ikutan branding orang lain yang belum tentu sesuai dengan kepribadian diri kita. Selamat mencoba. (RN)

Top 5 Recommended Film for PR Practitioners


PR Practitioners, apakah anda termasuk pecinta Film? Kalo ya, bagus sekali, karena kami akan memberikan rekomendasi film bagus yang isi ceritanya terkait dengan dunia PR. Berikut adalah Lima rekomendasi  film-film yang ada hubungannya dengan dunia Public Relations:
Jerry Macguire
1) Wag The Dog
Presiden terlibat dalam skandal seks ketika sedang menjalankan proses pemilu, ‘Spin Doctor’ (pengkonsep propaganda-red) Robert De Niro dan produser Du
stin Hoffman membuat perang palsu untuk mengalihkan perhatian media. Sebuah film yang brilian, asalkan Anda tidak bekerja di PR. Hal ini dirilis terkait dengan affair yang dilakukan Lewinsky (dan menyebabkan aksi militer berikutnya di Irak, Sudan, Afghanistan dan Yugoslavia).
2) Jerry Maguire
Film Jerry dimulai dalam film khas PR (uang, jurnalis, telepon, dll) dan kemudian suatu malam dia mendapat pergolakan di hatinya dan memutuskan bahwa, sebenarnya, ia telah terlalu banyak klien. Dia ingin berhubungan dengan klien yang lebih sedikit. Lalu dia menulis memo yang bertuliskan, “Gets fired for it”, dan akhirnya ia hanya memiliki satu klien.

3) Power Absolute (Seri TV)
Pope Idol, penyakit palsu, spin Nazism yang bekerja untuk dua klien dalam kompetisi langsung; ini merupakan territorial ‘spin doctor’ yang sangat hebat dalam kekuasaan mutlak Stephen Fry. Ini sangat lucu untuk banyak alasan. Ya, kita terlihat mengerikan, tetapi kita bisa memulai sementara melakukannya.

4) Jersey Girl
Ben Affleck menangis kepada kliennya, Will Smith, dihadapan para wartawan. Sangat inspiring, sampai film kesalahan langkah yang dilakukan menjadi ‘makna sebenarnya dari kehidupan’. Film ini juga dilengkapi dengan adegan PR yang berguna seperti Ben yang menjelaskan untuk meredakan kekhawatiran warga New Jersey tentang pekerjaan konstruksi.
5) Phone Booth
Film ini tidak terlalu terkait dengan PR dan lebih berkaitan dengan Colin Farrell yang menangis kepada Jack Bauer melalui telepon. Dia adalah seorang PR – apakah membantu?

Selain 5 film diatas, ada juga beberapa rekomendasi film lain seperti : “Thank You for Smoking”, “Sliding Doors”, “The Candidate”  (1972), “The China Syndrom” (1979), “Sweet Smell of Success” (1957), “A Star is Born” (1937), dan “Miracle of the Bells” (1948).
Tertarik? Ada yang belum ditonton? Atau ada rekomendasi lain? Mari segera berburu film-filmnya.

Program Training












Mantra Swara, Menggali Kekuatan Suara


Oleh: Billy Soemawisastra
Pernahkah Anda perhatikan, mengapa sebagian Bhiksu, Kiyai, Pendeta, Pastor, mempunyai suara yang bagus-bagus? Bagus, dalam arti jernih, bulat, berdiafragma, dan menimbulkan getar-getar kewibawaan, meskipun disampaikan dengan nada rendah.
Atau, pernahkah Anda membayangkan, betapa merdunya suara Yesus atau Isa Al-Masih, ketika berkhotbah di atas bukit. Betapa membahananya suara Musa, sewaktu menyampaikan sepuluh perintah Tuhan, sekembalinya dari Thursina (Gunung Sinai).
Betapa hangatnya suara Muhammad SAW, sewaktu berkhotbah pada ibadah hajinya yang terakhir, atau ketika menyampaikan pesan-pesan pamungkasnya di sebuah bukit di Ghadir Khum. Pun, betapa lembutnya suara Siddharta Gautama, tatkala menyampaikan inti ajaran Buddha di sebuah taman di Bodhgaya.
Itulah suara-suara yang penuh keagungan, yang menyeruak dari kedalaman diri, yang bergetar dilingkupi frekuensi Illahi.
Sejarah agama-agama mencatat, manusia-manusia agung itu (Musa, Yesus, Muhammad, Buddha Gautama) telah berhasil memberikan pencerahan kepada sejumlah umat pada zamannya, melalui suara mereka yang penuh wibawa. Tidak ada catatan dalam sejarah bahwa mereka pernah bersuara serak, atau melengking memekakkan telinga.
Justeru sebaliknya, catatan-catatan para ahli sejarah menyebutkan bahwa suara para pembawa ajaran Tuhan itu, mampu membuat para pendengarnya terhenyak, dan menikmati kata demi kata yang mereka sampaikan.
Mungkin Anda akan mengatakan, lumrah saja bila Musa, Yesus, Muhammad dan Buddha Gautama mempunyai suara-suara yang bagus, karena mereka memang disiapkan untuk menyampaikan ajaranNya. Sehingga dibekali suara yang bagus-bagus, tanpa harus dilatih terlebih dulu.
Tidakkah Anda membayangkan, apa yang dilakukan para Kekasih Tuhan itu ketika berada dalam kesendirian? Mereka bermunajat. Berkomunikasi dengan Tuhan, seraya menyebut nama Tuhan dengan penuh keagungan. Dalam nada rendah dengan tarikan nafas yang halus.
Berulang-ulang mereka ucapkan nama Tuhan dengan penuh rasa cinta, melalui getaran-getaran diafragma. Itu yang menyebabkan suara mereka semakin merdu, melengkapi kemerduan yang memang telah dianugrahkan Tuhan kepada mereka.
Suara, merupakan anugrah Tuhan. Sang Pencipta Yang Maha Baik itu telah membekali manusia dengan berbagai jenis atau warna suara yang bagus-bagus, yang oleh manusia kemudian didefinisikan atau dipilah-pilah sebagai Bas, Bariton, Tenor, Sopran dan lain sebagainya.
Jenis atau warna suara yang bagus-bagus ini adalah fitriah, alias tidak bisa diubah oleh manusia. Yang dapat diubah hanyalah “power”nya, lalu intonasi, artikulasi dan diksinya. Semua itu perlu dilatih secara intensif, sehingga menghasilkan suara yang berkualitas, bisa dinikmati oleh semua orang, termasuk si empunya suara.
Bagusnya ciptaan Tuhan berupa suara itu, dapat kita poles atau kita perbagus lagi dengan modal yang juga diberikan Tuhan kepada manusia, yaitu napas dan energi. Dengan demikian, semua pemberian Tuhan kita manfaatkan, dan dengan memanfaatkan semua pemberian Tuhan, berarti kita telah mensyukuri nikmat Tuhan.
Tulisan ini saya buat sebagai sumbangan bagi dunia Olah Suara. Semoga dapat dimanfaatkan oleh siapa pun, yang dalam profesinya sangat berkaitan urusan “tarik suara”. Baik itu penyanyi, presenter radio dan televisi, para politisi dan pejabat yang sering tampil berbicara di depan khalayak, para pengajar atau bahkan para penyebar ajaran keagamaan dan spiritualisme.
Dengan pengalaman bertahun-tahun sebagai penyiar radio, pelatih teater dan instruktur voice traininguntuk para presenter televisi, ditambah pengamatan intens terhadap para pelaku atau pekerja tarik suara, saya menyodorkan cara yang sangat ampuh, guna mengeksplorasi power (kekuatan) suara. Yaitu dengan melafalkan Mantra Swara secara rutin, dengan teknik yang tepat.
Pernapasan Perut.
Suara yang kita keluarkan melalui mulut, pada hakikatnya didorong oleh napas yang kita hembuskan dari dalam rongga tubuh kita. Kualitas napas yang kita hembuskan (exhale) sangat bergantung dari cara kita memasukkan atau menarik napas (inhale) melalui hidung. Napas yang pendek akan menghasilkan suara yang pecah, terengah-engah dan volume yang tidak konstan.
Panjang pendeknya napas ini, ditentukan oleh teknik pengambilan napas yang benar. Bila napas yang kita hirup, kita simpan di dalam rongga dada, maka hasilnya adalah napas yang pendek. Tetapi bila kita terbiasa menarik napas lalu menyimpannya di dalam perut, niscaya napas kita pun akan panjang dan teratur. Ini yang disebut teknik pernapasan perut, dan merupakan cara yang lumrah digunakan dalam dunia olah suara. Cara yang juga diterapkan oleh para pelaku yoga dan meditasi.
Mengapa kita harus membiasakan diri menggunakan teknik pernapasan perut? Karena sebenarnya, secara naluriah, kita bernapas dengan teknik pernapasan perut. Coba saja perhatikan orang yang sedang tidur terlentang, perutnya akan tampak turun-naik seiring inhale dan exhale yang dilakukannya.
Begitu pula bila seseorang sedang mengalami stres, biasanya tanpa sadar ia akan menarik napas panjang dengan teknik pernapasan perut. Kondisi di bawah sadar ini merupakan kondisi naluriah atau instinktif. Jadi, melatih pernapasan perut, sama saja dengan mengembalikan naluri kita, refleks kita. Coba lagi perhatikan bila Anda bangun tidur (dengan tidur yang berkualitas tentunya), Anda akan merasakan suara Anda lebih berat, lebih bulat.
Sekarang, terlentanglah di atas alas yang datar tanpa bantal. Badan lurus mulai dari kepala hingga ujung kaki. Tangan terlentang. Tutup mata perlahan, lalu tarik napas pelan-pelan melalui mulut, simpan sejenak di dalam rongga perut. Setelah itu hembuskan melalui mulut, juga pelan-pelan. Lakukan itu berkali-kali, seraya berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan oksigen gratis untuk menopang hidup kita dan memberikan energi bagi ruh.
Cara ini juga dapat Anda lakukan sambil berdiri, atau duduk santai dengan punggung lurus. Bila teknik pernapasan perut ini Anda nikmati sepenuhnya, secara berangsur akan Anda rasakan otot-otot tubuh Anda mengendur. Sehingga stres pun tereliminasi. Efek sampingnya, Anda akan mengantuk. Tidak apa-apa. Tidur saja. Tidur juga anugrah Tuhan yang dapat membuat kita segar. Tetapi kalau bisa, jangan dulu tidur, karena Anda sedang berlatih teknik pernapasan.
Jangan sekali-kali menyimpan napas di dalam dada, karena cara itu hanya akan menyebabkan paru-paru Anda bekerja ekstra keras. Fungsi paru-paru hanya sebagai respirator atau pemompa napas. Biarkan rongga dada hanya menjadi jalur yang dilewati inhale dan exhale. Tugas menyimpan dan mendorong napas kita berikan kepada perut, rongga terbesar dalam tubuh manusia.
Bila Anda telah berhasil melatih diri Anda dengan sistem pernapasan perut (abdominal/belly breathing system), kini coba hembuskan napas yang tersimpan di dalam perut itu dibarengi dengan suara AOUatau sepanjang-panjangnya, sampai cadangan napas di dalam perut Anda habis. Jangan berteriak. Ucapkan huruf-huruf vokal itu dengan nada dasar do, dalam satu hembusan napas. Lakukan berulang-ulang. Tarik napas melalui hidung sepanjang-panjangnya. Simpan sejenak di dalam perut. Lalu hembuskan sambil bersuara seperti di atas.
Melafalkan Mantra Swara Secara Berirama.
Kini tiba saatnya Anda melafalkan Mantra Swara. Ini adalah istilah saya sendiri, untuk menyebut puji-pujian kepada Tuhan, yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengeksplorasi diafragma. Cobalah Anda perhatikan para Bhiksu Buddha yang sedang membacakan puji-pujian. Mereka menyampaikannya dengan nada rendah dan panjang.
Tirulah irama yang disenandungkan para Bhiksu ketika melafalkan puji-pujian tersebut. Tariklah napas sedalam-dalamnya melalui hidung. Simpan napas itu sejenak di dalam perut. Lalu hembuskan napas Anda melalui mulut sambil mengucapkan setiap kalimat di bawah ini dengan nada yang konstan dan dengan satu tarikan napas:
  • Namo Sanghyang Adhi Buddhaya, Namo Buddhaya.
  • Namo Sanghyang Avalokitesvara Bodhisatva Mahasatva.
  • Namo Sanghyang Maitreya Buddhaya.
  • Namo Amitabha Buddhaya.
  • Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambudassa.
Sambil mengucapkan kalimat-kalimat ini, coba rasakan getaran-getaran diafragma di sekujur punggung, dengan menempekan salah satu telapak tangan Anda ke daerah punggung. Bila punggung Anda belum terasa bergetar, berarti masih ada yang salah dalam cara Anda menarik napas. Atau karena Anda “mencuri” napas di tengah kalimat yang Anda ucapkan. Jadi, berusahalah jujur pada diri sendiri dengan tidak mencuri napas.
Apakah hanya puji-pujian dalam agama Buddha saja yang bisa digunakan sebagai Mantra Swara? Tentu saja tidak. Puji-pujian dalam agama apa pun, bisa Anda gunakan sebagai Mantra Swara. Bila Anda seorang Muslim, misalnya, Anda dapat mengucapkan kalimat-kalimat dzikir dan do’a di bawah ini, dengan satu tarikan napas.
Caranya sama. Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, simpan sejenak di dalam perut, lalu hembuskan napas Anda melalui mulut seraya melantunkan kalimat-kalimat ini sampai cadangan napas di dalam perut terkuras habis:
  • Subhanallah Walhamdulillah Walailaha ilallah Wallahu Akbar.
  • Lailaha illa Anta, Subhanaka, inni kuntu minaddzalimin.
  • Subbuhun Quddusun Rabbuna Warabbul Malaikati Warruh.
  • Allahumma Nawwir Qulubana Binuri Hidayatika Kama Nawwartal Ardlo Binuri Syamsika Abada.
  • Rabbana La Tuzigh Qulubana Ba’da Idz Hadaitana Wahablana Min-Ladunka Rahtaman innaka Antal Wahhab.
Jika Anda seorang penganut Hindu, ucapkan Mantra Gayatri dengan teknik seperti di atas:
Om bhur bhuvah svah tat savitur varenyam
bhargo devasya dhimahi dhiyo yo nah pracodayat.
Tentu terlalu berat bila Anda mengucapkannya mulai dari Om hingga pracodayat dengan hanya satu tarikan napas. Bagi dua saja. Satu tarikan napas mulai dari Om hingga varenyam. Lalu satu tarikan napas lagi mulai dari bhargo devasya hingga pracodayat.
Bila Anda seorang Katholik, lantunkan Gloria in Excelsis Deo dengan irama yang biasa Anda gunakan, berulang-ulang, dengan satu tarikan napas, setiap ulangannya.
Jika Anda seorang penganut Yahudi (Judaisme), ucapkan: Barukh ata Adonai, Eloheinu Melekh ha-Olam, dan kalimat-kalimat do’a lainnya dengan teknik yang sama.
Ini hanya beberapa contoh saja dari berbagai Mantra Swara yang dapat Anda gunakan untuk mengeksplorasi power atau kekuatan suara Anda. Anda bisa menambahnya dengan puji-pujian yang lain, sesuai keyakinan agama Anda.
Namun berdasarkan uraian ini, terjawablah pertanyaan di awal tulisan: mengapa sebagian Bhiksu, Kiyai, Pendeta, Pastor, mempunyai suara yang bagus-bagus? Mengapa Musa, Yesus, Muhammad, Buddha ,memiliki suara-suara yang penuh keagungan? Karena mereka rajin memuji Tuhan dengan penuh cinta, penuh rasa hormat.
Mereka lantunkan puji-pujian itu dengan suara rendah, khidmat dan dengan napas teratur. Mengapa tidak kita tiru mereka? Melatih suara kita, sambil memuji Tuhan. Dan, Tuhan pun, akan melimpahkan energi positif yang takkan pernah ada habisnya.
Billy Soemawisastra.

Sabtu, 27 Agustus 2011

Media Relations




Oleh Tarsih Ekaputra

            Tak sedikit dari staf media relation officer yang berkomunikasi dengan media hanya disaat akan melakukan penyebarluasan informasi saja, baik itu disaat organisasi akan melucurkan program atau produk barunya atau disaat organisasi sedang mengalami krisis baik itu krisis akibat adanya pemberitaan negative (PR Crisis) atau krisis keuangan (financial crisis) maupun krisis strategis (strategic crisis) yang melanda organisasi. Ada beberapa pertanyaan yang sering muncul terkait dengan program media relations ini, seperti kapan seharusnya media relations ini menjalankan fungsinya? Apa saja kendala yang dihadapi saat media relations officer (MRO) menjalankan fungsinya sebagai bagian dari PR? Hubungan seperti apa yang seharusnya dijalankan oleh seorang MRO?.
            Petanyaan di atas seringkali mencuat diberbagai kesempatan seminar maupun workshop. Di sini saya mencoba untuk sekilas menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Untuk pertanyaan pertama tentang kapan seharusnya MRO menjalankan fungsinya sebagai bagian dari program Public Relations?. Secara sederhana tugas utama media relations dalam praktik PR adalah menjaga hubungan baik dengan pihak media (jurnalist). Banyak cara dan teknik untuk dapat membangun dan mempertahankan hubungan baik dengan media tetapi yang perlu digaris bawahi adalah lakukan pendekatan secara berkesinambungan dan bangun relasi dengan media seluas-luasnya dengan memberikan perhatian yang tulus pada media/wartawan. Jangan hanya terfokus bada kepentingan bisnis organisasi melainkan diberbagai hal. Seorang wartawan / reporter secara individu adalah sama seperti kita yang masih membutuhkan perhatian dan penghargaan dari setiap orang atau dalam istilah sederhana wartawan juga manusia dan butuh teman. Secara professional, sebagai seorang media relations officer anda harus berusaha secara baik memenuhi kebutuhan wartawan. Kebutuhan utama wartawan adalah mendapatkan informasi yang aktual dan faktual serta memiliki news value yang kemudian akan disebarkan kepada khalayak pembacanya.
Dan terkait dengan kapan hubungan itu harus dijalankan tentu jawabnya adalah sepanjang waktu selama organisasi tempat anda bekerja itu ada. Hal ini sekaligus menjawab pertanyaan kedua, yakni tentang beberapa kendala yang sering dihadapi oleh seorang media relation officer dalam menjalankan fungsinya. Sekali lagi tak sedikit dari kita yang menghubungi media di saat kita butuh saja, seperti terkait dengan hal-hal di awal tulisan ini. Sehingga kendala yang sering muncul adalah tak terpenuhinya harapan organisasi. Harapan organisasi yang dipikulkan pada seorang media relation yang paling utama adalah adanya penyebaran informasi ke publik melalui media dengan jumlah yang banyak (sesuai target), kemudian yang juga tak kalah pentingnya adalah jumlah media yang hadir disetiap acara yang diselenggarakan oleh organisasi. Kenapa demikian? Tentu ada faktor lainnya selain kurang dekatnya media relations officer dengan pihak media (wartawan/reporter), yakni nilai dari informasi yang disuguhkan atau terkait dengan news value dari event yang diselenggarakan.
Untuk itu ada beberapa hal yang pelu dipertimbangkan secara seksama oleh seorang media relations baik itu nilai plus dari event yang digelar maupun kemasan acara serta berita pers yang dibuat oleh seorang media relations officer. Guna dapat menghadirkan sebuah program penyebaran informasi yang mampu menarik minat media, seorang media relation seperti dijelaskan oleh  Yosal Iriantara (Media Relations: konsep, pendekatan dan praktik, 2005) perlu memahami beberapa hal, seperti mediascape , kebutuhan media, cara kerja media, kode etik media dan jenis-jenis karya media.
Mediascape  secara sederhana dapat dipahami sebagai gambaran yang terjadi di dunia media massa di Indonesia. Ini bisa mencakup berbagai hal tentang media massa yang ada, mulai dari type/jenis media, karakteristik masing-masing media massa hingga detail ke target audience, oplah, gaya bahasa, kekurangan dan kelebihan dari masingmasing media massa yang ada. Yang kedua seorang media relations officer juga harus memahami kebutuhan media massa. Pada dasarnya seperti disampaikan di atas, kebutuhan utama media dari organisasi adalah  informasi yang memiliki nilai dan sesuai dengan media tersebut dan kemudian disampaikan ke khalayak pembacanya. Jadi informasi yang dibutuhkan oleh media adalah informasi yang memiliki nilai berita. Artinya, informasi yang diberikan oleh organisasi hendaknya sesuai dengan pedoman professional dalam memilih, mengonstruksi dan menyajikan berita yang dibuat oleh lembaga penyiaran dan pers. Secara sederhana nilai berita menjadi pedoman apakah informasi tersebut layak atau tidak untuk dijadikan berita dengan pertimbangan dampak atau pengaruh yang timbul dari berita tersebut serta kecepatan atau kebaruandari informasi tersebut sehingga pembaca merasa memperoleh sesuatu yang sebelumnya belum ia ketahui.
Setelah memahami kebutuhan media, seorang media relations officer juga dituntut mengetahui cara atau alur kerja media. Media masa secara umum memiliki fungsi menginformasikan, mengawasi, mendidik, menghibur dan mempengaruhi. Selain pemahaman fungsi dari media massa, seorang media relations juga perlu memahami alur kerja media, seperti soal tenggat waktu (deadline) di mana masing-masing jenis media memiliki jadual deadline yang berbeda. Seperti media cetak (harian, mingguan, maupun bulanan), kemudian untuk media elektronik (radio, Tv dan Cyber Media). Kemudian alur kerja produksi di media secara sederhana bisa diilustrasikan seperti gambar ini:



(adopsi dari alur kerja media Yosal Iriantara, 2005)

Dari gambar di atas dapat dilukiskan bahwa, informasi yang berupa data, fakta atau peristiwa, diperoleh media massa (reporter / wartawan) bisa dari dua sumber. Pertama bisa dari kantor berita seperti Antara, Persda, AFP, AP dan lainnya atau dari siaran pers (berita pers) yang dibuat oleh seorang media relations. Wartawan / reporter kemudian menyusun/menuliskan informasi yang diperolehnya dan diserahkan pada redaktur. Perlu diketahui juga ada kalanya berita yang bersumber dari kantor berita atau siaran pers diolah langsung oleh redaksi. Setelah sampai di sini, redaksilah nantinya yang akan menyeleksi informasi yang dipandang layak untuk disebarkan kepada publik.
Melihat alur kerja media ini, seorang media relation tentunya tak hanya dituntut untuk menjalin/menjaga hubungan baik dengan wartawan saja melainkan juga dengan pihak redaksi. Hal ini mengingat keputusan layak atau tidaknya informasi kita dijadikan berita ada di tangan redaksi. Namun demikian bukan berarti menjalin hubungan baik dengan wartawan tidak menjadi penting. Tetap sangat penting karena akan memudahkan organisasi dalam menyampaikan informasinya secara cepat.
Hal lain yang perlu dipahami seorang media relations adalah tentang kode etik media. Secara umum prinsip universal yang dimiliki kode etik kewartawanan di negara manapun seperti rumusan KEWI (Kode Etik Wartawan Indonesia) yang disahkan 26 organisasi kewartawanan di Bandung 6 Agustus 1999 mencakup:
-          Melaporkan kebenaran dan tidak bohong
-          Memeriksa akurasi berita sebelum dicetak atau disiarkan
-          Mengoreksi kesalahan yang diperbuat
-          Tidak boleh membeda-bedakan orang
-          Memperoleh informasi dengan jujur
-          Tidak boleh menerima suap atau pemberian lain yang dimaksudkan untuk mempengaruhi liputannya
-          Tidak membiarkan kepentingan pribadinya mengganggu pekerjaan kewartawaan
Media relations officer sangat penting untuk memahami pasal-pasal dalam KEWI tersebut, terutama terkait dengan embargo, off the record dan hak jawab. Tetapi bukan berarti pasal-pasal lain menjadi tidak penting, melainkan ketiga hal tersebut yang kerap sekali berkaitan dengan dunia PR manakala berhubungan dengan media massa.
Yang kemudia juga tak kalah penting untuk dipahami oleh media reations officer adalah terkait dengan jenis-jenis karya atau penulisan media massa. Secara klasik isi media massa yang non iklan dikelompokkan menjadi empat, yakni berita, feature, artikel dan tajuk. Berita di sini dapat dipahami sebagai peristiwa yang memiliki dampak terkait dengan kepentingan banyak orang dan harus disampaikan secara cepat ke khalayak pembaca. Feature merupakan tulisan yang menganalisis berita, menghibur, atau bercerita tentang manusia, tempat atau benda di dalam atu di luar berita. Feature lebih banyak bermuatan komentar, analisis, wawancara, latar belakang dan keragaman sumber daripada sebuah berita. Hal ini dikarenakan feature lebih banyak mengeksplorasi sejumlah isu dengan lebih mendalam. Feature sebagai media komunikasi dengan publik organisasi memiliki beragam jenis, seperti profile kepribadian seseorang, human interest, cerita tren, in-depth stories dan backgrounders.
Dari pemaparang singkat di atas, dengan demikian hubungan yang harusnya dijalin oleh seorang media relations officer dengan pihak media adalah hubungan yang berkesinambungan, tanpa pandang bulu dan jujur. Karena menciptakan sebuah kesepahaman (mutual understanding) tidaklah bisa dilakukan secara sporadis atau hanya dikala dibutuhkan saja. Selain hubungan yang lebih ntens dan professional, seorang media relations officer juga harus memahami secara benar seluk belum media, tugas dan tanggung jawab media/wartawan serta pemenuhan akan kebutuhan media. Selain itu seorang media relations oficer selain harus memahami secara mendalam tentang hal-hal di atas juga perlu adanya penguasaan teknis menulis dan berbicara di depan publik. Dan yang terpenting dalam menjalin hubungan dengan media adalah jangan jadikan media sebagai ”pemadam kebakaran” saja dikala organisasi sedang mengalami krisis atau memerlukan sebuah penyebaran informasi. Dengan demikian seorang media relation mampu secara professional menjalankan fungsi manajemen yang mengelola komunikasi dalam rangka menjembatani kepentingan organisasi dengan kepentingan publik agar mencapai tujuan pengertian bersama (mutual understanding), meningkatkan pemahaman, membangun ketertarikan, dan menumbuhkan simpati publik.

(disampakan penulis dalam sebuah workshop PR Strategy (Bali 5-7 Des 2007 yang diikuti oleh corporate secretary & external comunicatiobs dari beberapa oil company) -- daftar pustaka: Yosal Iriantara (2005) ”Media Relations (konsep, pendekatan dan praktek), Dodi M. Gozali (2005) Communicatio Measurement, Prayudi, SIP, MA Penulisan Naskah Public Relations)